FeedbackSubscribeRelated LinksContact Us
 
      ANALISIS
 
 

 Aceh-Eye Analisis Inside Indonesia 2000..
    INSIDE INDONESIA
Catatan Seorang Janda

No. 62 April-Juni 2000

Seperti yang diceritakan kepada Syarifah Mariati

Sekali lagi saya terpaku, dingin. Satu lagi korban telah ditemukan pagi ini. Saya melihat sejumlah warga desa tergesa-gesa menuju sawah, ingin tahu apakah dia merupakan keluarga mereka. Saya baru saja mendengar kabar bahwa satu lagi mayat telah ditemukan di pematang sawah. Seorang laki-laki. Dari desa sebelah. Dari desas-desus yang saya dengarkan, bahwa peluru menembus dadanya di bagian kiri, dan tanda-tanda siksaan memenuhi seluruh badannya. Cepat-cepat saya masuk ke dalam rumah. Saya tidak mampu lagi mengangkat seember air dari sebuah sumur, walaupun itu hanya dua meter jaraknya dari rumah saya. Jantung saya berdegup kencang.

Takut. Tuhan, giliran siapa lagi sekarang ini? Akankah orang-orang selalu dibunuh? Apakah yang dilakukan laki-laki itu sampai dia harus mati dengan cara demikian? Berapa besar dosa yang telah dilakukannya? Saya masih sangat trauma dengan apa yang saya saksikan tiga bulan sebelumnya.

Sore itu saya sedang duduk di depan rumah lalu terdengar derap di jalan. Para tentara dengan pakaian seragam, mengacungkan senjatanya. Mereka lebih dari 20 orang. Saya bersiap-siap untuk masuk ke dalam rumah. “Keluar kalian semua! Cepat, keluar, kamu semua yang ada di dalam. Jangan berpura-pura bahwa tidak tahu kami datang. Lihat ini. Inilah sebagai contoh yang akan terjadi kalau kalian berani bergabung dengan pemberontak GPK. Kalian akan menjadi babi seperti ini.” Saya panik. Orang-orang keluar dari rumahnya. Termasuk Bang Nurdin, ibu mertua saya, dan semua warga desa. Dengan terkejut saya melihat apa yang mereka bawa… kepala manusia. Apakah mata saya tidak salah? Tidak. Itu memang kepala manusia. Terpotong dari lehernya. dengan sangkur? Saya tidak berani untuk melihat. Darah tercecer Rasa mual muncul. “Ayo, lihat ini semua. Siapa lagi yang mau berakhir seperti ini? Siapa lagi? Babi! Sambil memamerkan kepala itu disepanjang jalan desa, mereka menantang penghinaan.

Orang-orang dipaksa untuk melihatnya. Segala bentuk perasaan bercampur aduk di dalam hati saya. Takut, ngeri, mual dan sedih. Azwar, seorang pemuda tampan. Dia disukai oleh semua warga karena dia sangat pendiam, rendah hati dan ringan tangan. “Kasihan Azwar” kata Bang Nurdin dengan penuh emosi. Saya dapat ingat dengan jelas ketika warga desa berkeinginan untuk menguburkan mayat yang mereka temukan terbaring di jalan. Kami tidak tahu dia berasal dari desa mana. Kemudian, lima tentera muncul. Salah seorangnya dengan sombong berkata, ‘Tahukah kamu siapa dia? Dia adalah pemicu pemberontakan. GPK. Kamu tahu. Orang-orang GPK ini bukan manusia tetapi babi. Kamu tidak perlu menguburkan mereka karena mereka semua babi.” Orang-orang terdiam dan tergesa-gesa kembali ke rumahnya. Berita warga desa yang tertembak, penculikan, penyiksaan- hampir setiap hari saya dengar. Kadang-kadang di desa ini, kadang-kadang juga di desa lain. Berita mayat terletak di pinggir jalan, selokan, tambak, sungai, di semua tempat. Ini mungkin saja seorang laki-laki dari desa saya ataupun dari desa lain, dibuang seperti sampah. Mayat-mayat itu dibiarkan tanpa terkubur karena warga desa sangat takut untuk mengambil mayat-mayat tersebut.

Saya tidak tahu kenapa warga desa dibunuh. Salah seorang mengatakan bahwa mereka dibunuh karena mereka adalah anggota GAM (Gerakan Aceh Merdeka). Seperti juga mayat lelaki yang ditemukan di pematang sawah tadi pagi. Lelaki tua itu tinggal di sebelah desa saya; dia seorang tukang kebun yang menjaga kebun kepala sekolah. Dia dituduh sebagai anggota GAM, dan menyembunyikan senjata. Saya dilahirkan 43 tahun yang lalu, di sebuah desa Cot Geuleumpang, kira-kira tiga kilometer dari ibukota kecamatan Peureulak Aceh Timur. Nama saya Maimunah. Bapak saya adalah teungku imeum, seseorang yang dihormati di desa saya. Ibu saya juga seorang yang dikenal; warga desa selalu datang kepadanya dengan berbagai masalah mereka. Untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, orang tua saya mempunyai sawah yang tidak luas. Suatu hari, saya diberitahu bahwa seseorang berencana untuk melamar saya. Namanya adalah Nurdin. Akhirnya, Bang Nurdin mengajak saya untuk pindah ke desanya, Uteun Dama, kira-kira empat kilometer dari desa asal saya. Kami bekerja sebagai buruh tani ketika musim bercocok tanam dan panen. Kami pergi ke glee (bukit) bersama-sama ketika kami tidak pergi ke sawah.

Hari Jum’at, tanggal 2 Maret 1991. Hari itu adalah tanggal 15 bulan Sya’ban. Ada suatu tradisi di desa kami untuk mengadakan kenduri di meunasah (mesjid kecil). Kami menyebutnya kenduri nisfu sya’ban. Pada saat maghrib, Bang Nurdin pergi ke meunasah, dan kembali setelah malam hari. Tiba-tiba, kami mendengar suara iring-iringan truk yang lewat. “Giliran desa kita malam ini; tentera baru saja masuk,” kata Bang Nurdin. “Bang ada operasi malam ini. Kamu jangan tidur di rumah; pergi dan bersembunyi di hutan. Banyak lelaki di desa kami yang telah pergi untuk bersembunyi di hutan.” Tetapi Bang Nurdin menolaknya. “Saya tidak perlu takut. Kenapa saya harus bersembunyi di hutan? Mereka sedang mencari anggota GAM. Kita bukan GAM. Kita tidak perlu bersembunyi.” Mudah-mudahan dia benar. Tetapi saya tetap saja cemas.

Hari jumat, menjelang tengah malam. Ketika hampir tertidur, saya menenangkan Sukri untuk tidur. Dia terbangun dan menangis. Mungkin dia haus. Hasnah dan Muhadir tertidur dengan lelapnya. Di kamar sebelah, Bang Nurdin tidur dengan Yusda. Tiba-tiba, ada yang mengetuk pintu depan. “Bang Nurdin, keluar,” Saya mendengar suara orang memanggil dari luar. Saya bertanya-tanya siapa yang datang malam-malam begini. Karena khawatir, saya membangunkan Bang Nurdin untuk memberitahunya ada seseorang yang menyuruhnya keluar. “Siapa itu?” Tanya Bang Nurdin. “Saya, Sidik. Saya tinggal di desa Uteun Dama. Tolong keluar; ada orang yang mencari kamu.” Bang Nurdin dengan hanya memakai celana dan sarung di lehernya, membuka pintu untuk bertemu orang itu, yang dikawal oleh orang yang berdiri di sampingnya, rambutnya pendek, memakai kaos putih.”Tunjukkan KTP mu dan kartu keluarga.” Seseorang laki-laki yang berbicara bahasa Aceh dengan kurang lancar. Kami dapat lihat bahwa dia bukan orang Aceh.

Bang Nurdin masuk untuk mendapatkan KTP dan Kartu Keluarga. Dari dalam kamar saya dapat mendengar percakapannya. “Mereka cuma ingin melihat KTP saya dan Kartu Keluarga kita,” Bang Nurdin menjelaskan. “Hati-hati, bang.” Dia mengangguk dan mengambil KTP dan Kartu Keluarga untuk ditunjukkan kepada tentara yang di luar. Lelaki itu mengembalikan Kartu Keluarga tetapi menahan KTP nya. Saya mendengar dia memberitahu Bang Nurdin untuk berpakaian dan pergi karena ada beberapa urusan yang harus diselesaikan. Mendengar itu saya keluar dari kamar. “Kemana kamu akan bawa suami saya malam-malam begini? Kenapa kamu menangkap suami saya?” Saya bertanya kepada laki-laki itu. “Kami akan membawa dia ke pos jaga sebentar saja. Kamu kembali tidur saja.” Di luar, banyak sekali laki-laki, semuanya memakai perlengkapan menyamar, dan memegang senjata. Di bawah sinar bulan, saya dapat menghitung 10 orang. Sebagian berdiri di dekat pematang sawah, dan yang lainnya di sekeliling rumah. Saya menjadi curiga ketika melihat suami saya dipaksa pergi dengan laki-laki berkaos putih itu. Sepuluh laki-laki yang lain mengikuti mereka keluar.

Bang Nurdin memakai baju putih; sarung bercorak merah tersampir di atas pundaknya. Saya mengambil wudhu dan kemudian shalat, berdoa memohon keselamatan suami saya. Saya mengambil Al-Quran dan dengan lembut membaca ayat-ayatnya sepanjang malam. Pada waktu subuh beberapa tetangga berdatangan. “Apakah Bang Nurdin sudah kembali ke rumah?” mereka bertanya. “Belum lagi,’ saya menjawabnya. Mereka memberitahu saya bahwa mereka mendengar suara tembakan di glee. Saya menjadi lemah. Apakah Bang Nurdin yang mereka tembak? Ya Allah, jangan sampai ini terjadi. Adik saya datang dan berbicara dengan warga desa. Mereka pergi ke Desa Punti, desa sebelah, dimana pos komando terletak, untuk meminta izin melihat korban penembakan semalam di glee. Saya dengar mereka juga menangkap Tengku Adam, orang tua kampung. Saya juga sangat ingin untuk ikut, tetapi mereka tidak mengizinkannya. Saya mematuhinya dan meminta Yusda untuk ikut kelompok itu. Mereka menemukan Bang Nurdin di glee, terbaring di kebun kami. Dia sudah menjadi mayat. Warga desa melanjutkan pencarian Tengku Adam tetapi tidak berhasil menemukannya. Tidak berapa lama setelah itu. Mayat Bang Nurdin tiba di rumah. Saya menjadi lemas ketika melihat suami saya. Tenggorokannya telah terpotong, meninggalkan sedikit kulit saja yang melekatkan kepala dengan badannya. Sarung bercorak telah disumbatkan ke mulutnya oleh pembunuhnya yang mengakibatkan itu keluar dari potongan tenggorokannya. Saya melihat lubang di dadanya. Luka-luka memenuhi seluruh mukanya. Baju putih dan celana yang dia pakai telah berubah jadi merah. Darah dari tenggorokannya, dan juga darah dari dadanya. Dan kemudian semuanya menjadi gelap dan tak lama kemudian saya tidak tahu lagi apa yang terjadi kemudian.

Di rumah kami yang sederhana, mayat Bang Nurdin dibaringkan. Hanya sedikit orang yang datang untuk menyatakan belasungkawa, dan mereka pun tinggal hanya sebentar dan kemudian terburu-buru untuk kembali ke rumah. Biasanya, jika seseorang meninggal, hampir seluruh penduduk desa datang turut berduka cita. Mereka mendoakan yang telah meninggal dan juga keluarganya. Tetapi semuanya sekarang telah berubah. Mayat Bang Nurdin dimandikan dan dikuburkan hanya oleh sedikit orang yang berani datang ke rumah. Setelah shalat, orang-orang membaca Al-Quran dan berdoa untuk arwah, tetapi mereka pulang jauh sebelum larut. Bulu kuduk saya berdiri ketika mendengar anak perempuan saya berdoa, “Allah, saya memohon kepada-Mu, agar pembunuh ayah saya cepat mati.”



Syarifah Mariati adalah dosen di Banda Aceh dan juga anggota kelompok perempuan Flower Aceh. Diterjemahkan olehSylvia Tiwon. Petikan dari ‘Catatan seorang janda’ di ‘Nyala panyot tak terpadamkan’ (Banda Aceh: Flower Aceh, 1999)

 
 
  Copyright © 2012. aceh-eye.org all rights reserved. Pendapat dan saran silahkan kirim email kepada: programmes@eyeonaceh.org