|
Aceh hendak kemana? Laporan mengenai peristiwa
selama tahun 1999
Ed Aspinall
Karena sedikit banyak terpengaruh oleh jajak pendapat
bulan Agustus di Timor Timur, sejumlah besar
masyarakat di seluruh Aceh meminta dilakukannya
referendum sejak pertengahan Oktober. Pada tanggal 8
November, mungkin lebih dari satu juta orang, yang
berarti hampir seperempat dari populasi masyarakat
Aceh memenuhi jalan-jalan ibukota Banda Aceh.
Protes-protes ini umumnya dilakukan secara damai,
namun perang senjata terus terjadi antara golongan
militer dan pejuang GAM (Gerakan Aceh Merdeka) yang
disertai oleh banyak pembunuhan misterius dan
pembakaran di tengah malam. Pada saat yang sama,
infrastruktur negara Indonesia jelas runtuh. Pada awal
bulan Oktober misalnya, 600 dari 948 kepala desa di
distrik Pidie telah mengundurkan diri. Sejak awal
Oktober GAM menghimbau aksi mogok pegawai pemerintah.
Banyak kantor kecamatan dan bahkan kabupaten di Aceh
berhenti berfungsi. Di beberapa kota
pengadilan-pengadilan menghentikan kegiatannya karena
semua hakimnya telah pergi.
Menanggapi beberapa serangan separatis GAM pada akhir
tahun 1980an, tentara Indonesia meluncurkan suatu
kampanye melawan pemberontakan. Kampanye tersebut
berlangsung dengan intensitas tertinggi pada masa awal
pelaksanaannnya, tetapi kemudian berlangsung terus
selama satu dekade. Diperkirakan, kampanye tersebut
mengakibatkan dua ribu sampai lima ribu orang tewas.
Dalam luapan kegembiraan yang berkembang di seluruh
Indonesia setelah lengsernya Presiden Soeharto pada
bulan Mei 1998, masyarakat Aceh berusaha mengungkap
kejahatan masa lalu. Kuburan masal digali, berbagai
Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) menerbangkan
janda-janda korban ke Jakarta untuk memberi kesaksian
dan media massa memberitakan tentang kekejaman yang
terjadi.
Sebenarnya, pada saat itu pemerintahan Habibie
mempunyai peluang kecil untuk mengatasi ‘masalah Aceh’.
Selama beberapa bulan pertama, banyak masyarakat Aceh
merasa optimis bahwa suatu tindakan yang kongkrit akan
dilakukan. Pada bulan Agustus 1998, Jenderal Wiranto
mengunjungi Aceh dan memerintahkan penarikan pasukan
‘non-organik’. Habibie sendiri berkunjung pada awal
1999 dan berjanji untuk menyelidiki pelanggaran hak
asasi manusia. Namun Habibie sendiri sangat berhutang
budi kepada kalangan militer dan terlalu disibukkan
dengan perebutan kekuasaan di tingkat pusat, untuk
dapat memperhatikan Aceh secara serius. Tidak pernah
ada pengadilan dan kekerasan segera terulang.
‘Oknum-oknum’ membakar bis, sekolah dan instansi
pemerintahan lainnya. Mayat-mayat kembali teronggok di
tepi jalan dan penyerangan terhadap kalangan militer
kembali terjadi. Diperkirakan bahwa beberapa serangan
dilakukan oleh GAM, terutama terhadap orang yang
dicurigai berkolaborasi dengan kalangan militer. Namun
sebagian besar rakyat Aceh yakin bahwa provokator dari
kalangan militerlah yang bertanggung jawab dalam hal
ini, dengan tujuan menciptakan rasa takut. Memang
jelas terjadi pelanggaran oleh militer, termasuk
pembantaian di ‘Simpang KKA’ di Lhokseumawe pada bulan
Mei 1999 dan serangan di komunitas terpencil Beutong
Ateuh pada bulan Juli, yang mana puluhan orang
terbunuh dalam masing-masing kejadian. Namun
masyarakat Aceh tidak terlumpuh katakutan seperti pada
masa sepuluh tahun terakhir dari rezim Soeharto.
Selama beberapa bulan setelah jatuhnya Soeharto,
bermunculan gerakan masyarakat yang bersemangat. Media
massa lokal mulai menyelidiki kasus-kasus penindasan,
mewawancarai pemimpin-pemimpin GAM dan terkadang
menuduh kalangan militer melakukan kekerasan terhadap
sasaran acak. Beberapa LSM hak asasi manusia dibentuk,
yang menyelidiki kasus-kasus penindasan dan membawa
kampanye tersebut ke Jakarta dan luar negeri.
Seperti yang kerap terjadi di Indonesia, kalangan
pelajar mempelopori gerakan tersebut. Pada bulan
Februari 1999, di sebuah konferensi di Banda Aceh
dirumuskan permintaan untuk pelaksanaan referendum.
Kalangan pelajar tersebut membentuk kelompok yang
disebut SIRA (Sentral Informasi Referendum Aceh) untuk
menyebarkan kampanye referendum melalui jaringan LSM,
pelajar dan agama ke seluruh Aceh. Pamflet dan grafiti
muncul bahkan di daerah terpencil. Kampanye tersebut
cepat menyebar ke sektor sosial lainnya. Para pelajar
sekolah agama (yang tidak lagi menyebut dirinya dengan
kata santri tetapi memakai kata bahasa Arab yaitu
thaliban) dan bahkan para pengemudi becak turut
mendukung referendum. Titik baliknya terjadi pada
bulan September, ketika konferensi akbar kaum ulama
turut berpartisipasi. Sejak saat itulah, gerakan pro
referendum menjadi benar-benar besar.
Masa-Masa Jaya
Banyak masyarakat Aceh turut merasa bangga dengan
kontribusi Aceh terhadap perjuangan kemerdekaan
Indonesia pada tahun 1940an. Namun masyarakat Aceh
juga melihat jauh ke belakang, saat masa kejayaan awal
abad ke17 pada jaman Sultan Iskandar Muda, ketika Aceh
menguasai sebagian besar Sumatra bagian utara dan
bahkan sampai lebih jauh ke selatan. Meskipun
kekuasaannya menurun, Aceh tetap merupakan
pemerintahan yang independen sampai akhir abad ke 19.
Semuanya berakhir akibat perang penaklukan yang pahit
oleh Belanda selama 35 tahun, yang hingga kini masih
dikenang dalam cerita rakyat Aceh. Oleh karena itulah
ada suatu perasaan kehilangan kebanggaan, namun juga
suatu perasaan bahwa perjuangan yang dilakukan
sekarang adalah lanjutan dari sejarah. Demikianlah GAM
menganggap perjuangannya.
Para pembicara dalam rally pro referendum pada akhir
tahun 1999 mengutip Hikayat Perang Sabil yang ditulis
pada masa perang melawan Belanda. Rasa perbedaan latar
belakang sejarah membuat Aceh berbeda dari bagian
resah lainnya di wilayah Indonesia. Di Aceh juga
terdapat kumpulan mitos tentang sejarah perjuangan dan
pengorbanan nasional. Selain itu, juga terdapat
homogenitas etnis yang tinggi (meskipun tidak absolut)
dalam wilayah Aceh, dan agama Islam sebagai pengikat.
Faktor-faktor tersebut mendukung tingkat kohesi yang
tinggi dalam masyarakat Aceh.
Kalangan militer Indonesia tidak berhasil mendirikan
kelompok pendukung integrasi seperti di Timor Timur.
Semuanya ini tidak berarti bahwa Aceh akan menjadi
independen. Pemerintah pusat akan keras menentang
kemerdekaan dengan taruhan apapun, dan tidak ada
dukungan internasional yang signifikan untuk mendukung
kemerdekaan tersebut. Masalah lainnya berhubungan
dengan sifat heterogen kekuatan politik di Aceh. Di
Timor Timur, terdapat kesatuan tekad dalam gerakan
kemerdekaan selama satu dekade sebelum pelaksanaan
jajak pendapat yang diawasi oleh PBB. Namun di Aceh,
terdapat paling sedikit tiga kelompok penting, selain
gerakan ‘masyarakat madani’ yang terdiri dari kaum
pelajar, LSM dan media massa.
Yang pertama adalah kaum politik lokal dan elit bisnis
yang sejak dahulu telah terintegrasi secara cukup kuat
ke dalam kalangan elit nasional Indonesia. Sepanjang
periode Soekarno dan Soeharto, banyak masyarakat Aceh
memegang posisi pemerintahan yang pada tingkat
nasional, sedangkan tidak demikian halnya dengan tokoh
dari Timor Timur atau Papua Barat. Dalam struktur
pemerintahan Indonesia, selalu terdapat anggota
kabinet, pemimpin partai, jenderal militer senior dan
pemimpin grup bisnis terkemuka yang berasal dari Aceh.
Sebenarnya elit politik lokal tersebut telah menyambut
hasrat popular. Cabang Partai Persatuan Pembangunan
PPP di Aceh, misalnya, pada tahun 1999 mendukung
permintaan referendum. Beberapa pemimpinnya seperti
seorang legislator bernama Ghazali Abbas Adan, dengan
berani menyuarakan hak-hak masyarakat Aceh. Pada akhir
tahun 1999, bahkan tokoh-tokoh kuat terbawa arus
antusiasme populer. Pada masa gelombang mobilisasi
bulan Oktober-November, para pemimpin parlemen tingkat
propinsi dan distrik, bupati dan bahkan gubernurnya
sendiri menandatangani pernyataan mendukung
referendum. Namun secara garis besar, lapisan ini
masih menganggap dirinya sebagian dari kalangan elit
nasional Indonesia. Tidak satupun dari partai yang
memenangkan sejumlah besar suara pada pemilu bulan
Juni 1999 telah menunjukkan keseriusan untuk mendukung
Aceh merdeka. Tanda yang memperlihatkan bahwa elit
Aceh masih terkait erat dengan Indonesia adalah
penunjukan Hasballah M Saad, seorang pemimpin Aceh
yang vokal dan dihormati, dari Partai Amanat Nasional
PAN, sebagai menteri hak asasi manusia pada kabinet
Wahid. Barangkali kaum elit tersebut sedang dalam
keadaan goncang. Jurang yang cukup besar memisahkannya
dari opini populer. Namun perlu digarisbawahi bahwa
paling sedikit kelompok masyarakat Aceh tersebut akan
bersedia menerima kompromi supaya Aceh tetap menjadi
bagian negara kesatuan.
Kelompok penting yang kedua adalah pimpin agama Islam,
oleh karena Islam jelas-jelas sangat penting dalam
identitas masyarakat Aceh dan memberi kontribusi besar
kepada kekuatan gerakan kemerdekaan. Sejak tahun
1950an dan sampai sekarang, perasaan bahwa
sensitifitas Islam masyarakat Aceh tidak diindahkan
oleh pemerintah nasional yang berorientasi sekuler
telah turut menyulut ketidaksenangan. Sepanjang masa
gejolak, yaitu selama 18 bulan belakang ini, terlihat
berbagai gejala bahwa agama Islam menonjol kembali.
Kaum ulama dan thaliban menjadi terkemuka dalam
gerakan pro-referendum dan secara luas ada tuntutan
agar hukum syariah diterapkan.
Selain itu terdapat sikap-sikap baru terhadap
moralitas Islam. Dalam ‘razia jilbab’ di luar kota,
kelompok pria memotong rambut wanita yang tidak
mengenakan penutup kepala bergaya Islam. Kaum waria
pun menerima nasib yang sama dan dipaksa untuk
mengenakan pakaian pria. Orang yang tertangkap karena
melakukan hubungan di luar nikah dicambuk di depan
umum, menurut hukum syariah. Pekerja seks pun
dipermalukan dengan dipaksa berparade di jalan-jalan
Banda Aceh. Selain kemungkinan dapat memecah belah
masyarakat Aceh, fenomena tersebut menunjukkan
perbedaan yang terdapat di kalangan pro-referendum.
Kejadian-kejadian tersebut jelas sangat memprihatinkan
bagi kalangan LSM perkotaan dan kelompok pelajar yang
kurang lebih bersifat sekuler. Sementara LSM perempuan
Aceh telah mengutuk ‘razia jilbab’. Lebih penting lagi,
hal tersebut merupakan peluang untuk pemerintah pusat.
Dalam upayanya untuk mempertahankan Aceh dalam pelukan
Indonesia, baik Habibie maupun Abdurrahman Wahid telah
menunjukkan keinginan yang besar untuk memberi
kelonggaran kepada Islam. Presiden Wahid telah
menawarkan kemungkinan referendum, bukan soal
kemerdekaan, tetapi hukum syariah. Hampir seluruh
upaya negosiasi diarahkan kepada kaum ulama. Jelas,
tujuannya adalah supaya kepemimpinan Islam dipecah
belah dari para pelajar, GAM dan kekuatan pro-kemerdekaan
lainnya.
GAM
GAM, yang menjadi kelompok ketiga, merupakan kekuatan
sekaligus kelemahan dalam perjuangan masyarakat Aceh.
Sebagian besar pengamat memperkirakan bahwa GAM
memiliki beberapa ratus tentara infantri di lapangan.
GAM telah menunjukkan kemampuannya untuk menghancurkan
tentara dan kepolisian, meskipun kebanyakan dilakukan
secara tiba-tiba dan melibatkan beberapa penembak
gelap. Organisasi GAM sendiri mendapatkan dukungan
popular yang cukup besar, yang terkuat di (meskipun
tidak terbatas pada) pedalaman Pidie serta Aceh Utara
dan Timur dimana operasi anti pemberontakan pada akhir
1980an dan awal 1990an paling intensif dilakukan.
Banyaknya pendukung terlihat dalam sebuah upacara
penaikan bendera dalam rangka merayakan ulang tahun
GAM pada bulan Desember lalu. GAM juga memiliki
kemampuan untuk melumpuhkan Aceh dengan memerintahkan
kepada sarana transportasi dan layanan umum untuk
mogok. Namun, banyak misteri tetap menghantui GAM. GAM
dipimpin oleh Hasan di Tiro yang diasingkan dari Aceh
selama lebih dari empat dekade, yang mengaku dirinya
keturunan sultan Aceh meskipun menurut laporan
kesehatannya pun kurang baik. GAM sendiri tampak
sangat terkotak-kotak, dengan pertengkaran yang terus
terjadi antar kelompok utama di pengasingan. Tujuannya
pun tidak selalu jelas.
Pada awal tahun 1999, para pemimpin GAM dengan keras
menolak proposal referendum, menyatakan bahwa Aceh
telah independen. Namum setelah ulama muncul dan
mendukung proses referendum, mereka mengubah posisinya.
Ketidakpastian juga ada mengenai cetak biru GAM untuk
kemerdekaan Aceh. Beberapa pemimpin telah mengatakan
mendukung kembali sistem kesultanan (mungkin dengan
mencontoh Brunei yang kaya minyak), sementara yang
lain menyatakan ingin menuju negara demokratis yang
modern. Selain itu, Hasan di Tiro telah menolak
perundingan dengan pemerintah Jakarta. Dia telah
berulang kali menyatakan bahwa ‘masyarakat Jawa’
sangatlah bodoh dan tidak dapat dipercaya. Sementara
itu fraksi lain telah berhubungan dengan kepemimpinan
Wahid. Gambaran tentang Aceh di lapangan lebih tidak
jelas lagi. Sebagian besar komandan lapangan tampak
mendukung kepemimpinan Hasan di Tiro, namun beberapa
kelompok bersenjata di pedesaan hanya memiliki sedikit
afiliasi dengan GAM. Kelompok lain sebenarnya hanya
sekedar kriminal yang memanfaatkan nama GAM untuk
meminta uang kepada masyarakat setempat. Sebagian lain
adalah tentara pembelot, sedangkan seperti telah
disebutkan diatas, sebagian besar masyarakat Aceh
percaya bahwa satuan militer yang menyamarlah adalah
penyebab kekerasan yang terburuk.
Dari gambaran kacau tersebut, sepertinya telah jelas
terlihat bahwa tidak ada solusi militer yang efektif
untuk mengatasi masalah Aceh, meskipun berbagai pihak
dalam kemiliteran Indonesia masih mengusahakan tujuan
tersebut. Sebenarnya kebiadaban militer Indonesialah
yang mengubah GAM dari suatu kekuatan yang terisolasi
pada tahun 1970an menjadi kekuatan serius seperti
sekarang ini. Keengganan untuk menghukum pelaku
penganiayaan di masa lalu menjadi aspek krusial yang
memicu ketidakpuasan selama 18 bulan belakangan ini.
Presiden Wahid menghadapi tantangan yang cukup berat
untuk tetap menjaga Aceh dalam rangkulan negara
Indonesia, karena sentimen pro-referendum memiliki
momentum yang besar. Meskipun keretakan dalam
masyarakat Aceh merupakan kesempatan bagi pihak
Presiden, pengendalian militer dan hukuman bagi
pelanggar hak asasi haruslah menjadi pokok dalam
penyelesaian masalah tersebut.

Ed Aspinall mengajar di Universitas New South Wales,
Sydney. |