|
No 61 Januari – Maret 2000
Sebuah tim Australia menemukan tidak adanya
kegembiraan
Vanessa Johanson
Jalan – jalan di ibukota Banda Aceh kelihatan lengang
ketika saya berjalan di luar mesjid agung putih pada
waktu senja hari Minggu tanggal 6 Juni 1999. Kami
telah mencoba untuk melakukan tugas kami sebagai
anggota pemantau pemilu pada sore hari, mengelilingi
kota untuk mencari Tempat Pemungutan Suara (TPS).
Tetapi kami hanya menemukan satu buah – satu daerah
dengan kantor Panitia Pemilu Daerah tingkat satu
(PPD1). TPS yang lainnya, salah seorang karyawan
dengan malu-malu memberitahu kami, akan dibangun pada
saat akhir untuk alasan keamanan. Ketika saya berdiri
mengagumi mesjid itu, seorang lelaki muda di atas
sepeda motornya berhenti di pinggir jalan.
“Kamu, wartawan,”dia berteriak dalam bahasa Inggris.
“Besok akan ada perang besar di Aceh!” Dengan rasa
tercengang, saya tersenyum mendengar berita yang
mengejutkan itu. Tetapi rupanya dia bersungguh-sungguh,
seakan-akan dia diberikan suatu tugas dan akan
melaksanakannya dengan baik. “Kamu tinggal saja di
hotel! Besok akan terjadi perang!” Dia memacu
kenderaannya pergi.
Pada saat yang sama, hanya beberapa jam dari ibukota,
rumor yang sama disebarkan di sejumlah kampung. Ribuan
orang meninggalkan rumahnya di tempat terpencil menuju
tempat yang berdekatan dengan kota yang dianggap lebih
aman. Eksodus tersebut berlangsung terus sampai pagi
harinya pemungutan suara, tanggal 7, dan pada sore
harinya diperkirakan telah mencapai 50.000 orang di
dekat perbatasan Kabupaten Pidie dan Aceh Utara.
Terlihat beberapa tanda bahwa suatu konflik bakal
terjadi. Militer Indonesia, yang bertekad bulat bahwa
pemilu akan dilaksanakan, turun ke desa-desa dengan
tank dan truk. Bagi orang biasa hal tersebut merupakan
petanda buruk. Sepanjang bulan-bulan sebelumnya, ada
beberapa penembakan penduduk secara massal oleh
militer; puluhan penembakan misterius pada rakyat
biasa dan polisi; dan serangkaian pembakaran terhadap
bangunan sekolah, kantor-kantor pemerintahan, bis
antar-kota, kendaraan militer, kendaraan pribadi,
tempat pemungutan suara, kotak pemungutan suara, dan
juga rumah-rumah pribadi. Kejadian yang terburuk
terjadi di daerah yang mudah diserang seperti Pidie,
Aceh Utara dan Aceh Timur, yang dianggap sebagai pusat
kekuasaan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).
Tugas militer sebenarnya tidak mudah, karena secara
proporsional jumlah pemilih yang mendaftar di Aceh
adalah paling sedikit dibandingkan dengan tempat lain
di 27 provinsi di Indonesia, diakibatkan baik oleh
perasaan takut, intimidasi dan penipuan selama proses
pendaftaran, maupun sikap sinisme mengenai manfaat
nyoblos, serta boikot mutlak terhadap proses pemilu.
Keengganan masyarakat juga timbul sebagai akibat
kekecewaan dari pelanggaran janji oleh Habibie dan
Wiranto untuk memperbaiki keadaan Hak Azasi Manusia
(HAM). Boikot suara di tiupkan oleh kelompok yang
melawan Indonesia.
Aceh tidak pernah menerima dominasi dari luar dengan
mudah. Masih segar di ingatan masyarakat, Aceh telah
berjuang keras untuk kemerdekaan Indonesia melawan
Belanda, dan kemudian untuk kemerdekaan Aceh dari
Indonesia. Banyak pemikiran yang menyatakan bahwa
penggabungan kesultanan Aceh dengan Indonesia setelah
kemerdekaan adalah suatu kesalahan. Setelah masa
konflik dengan tentara Indoneia pada tahun 1950-an,
Aceh menerima hanya sedikit pengakuan untuk peranannya
dalam perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia serta
untuk keistimewaan kebudayaannya. Tahun 1999 ini
adalah ulang tahun yang keempat puluh sejak Aceh
ditetapkan sebagai daerah istimewa dengan otonomi yang
luas dalam bidang agama, pendidikan dan hukum adat.
Dalam masalah administrasi Aceh diperlakukan seperti
provinsi lain di Indonesia, termasuk mengenai bagian
kekayaan alam yang diambil. Melalui ekspor minyak dan
pertanian, Aceh menyumbangkan 11% dari seluruh
pendapatan asing untuk kas Indonesia, tetapi hanya
4.6% dari jumlah tersebut yang dikembalikan ke Aceh.
Sejarah perbedaan dan ketidakadilan tetap menghidupkan
gerakan bersenjata GAM, yang pada akhirnya merupakan
alasan bagi pemerintah Indonesia untuk mengirimkan
pasukannya pada tahun 1989 untuk menangulangi para ‘gerilya’.
Selanjutnya, Daerah Operasi Militer (DOM) berlangsung
selama hampir sepuluh tahun. Hal ini mengakibatkan
ribuan yang mati, hilang, diperkosa dan disiksa.
Oknum
Sesungguhnya tidak mustahil bahwa suasana ketakutan
pada hari pemilu juga diciptakan oleh pasukan yang
sebenarnya ditugaskan untuk mengamankan pemilu
tersebut. Keberadaan provokator dan oknum, yang
menculik dan menembak orang dan membakar harta benda
kemudian menaikkan bendera GAM, meningkatkan rasa
takut dan merupakan alasan bagi militer untuk menambah
jumlah pasukannya. Dalam wawancara kami dengan
wakil-wakil dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM),
media, partai politik (termasuk Golkar), polisi, dan
GAM disampaikan suatu pandangan umum, yaitu: oknum
tersebut bukanlah GAM - seperti yang dibilang oleh
tentara - tetapi adalah tentara yang tak berseragam
dan yang dinonaktifkan, termasuk 200-300 pasukan
Kopassus.
Sumber kami mengajukan sejumlah alasan tentang kenapa
‘provokator’ tersebut bermaksud menggangu kelancaran
pemilihan, tetapi tidak dapat menjelaskan tentang
rantai komando, ataupun hubungan mereka dengan militer
biasa. Kenapa militer berusaha melindungi pemilihan
sedangkan provokator tak berseragam secara bersamaan
ditugaskan untuk mengacaukannya? Apakah untuk
menimbulkan konflik supaya ada dasar untuk melanjutkan
kegiatan militer di Aceh, supaya para pemberontak
dapat diawasi dengan keras sementara berbagai
kepentingan bisnis militer termasuk perkayuan dan
ganja dapat dilindungi?
Beberapa orang setuju dengan gagasan tersebut, tetapi
ada tujuan yang lain pula termasuk: agar supaya calon
yang maju dan mungkin pro kemerdekaan dari partai PPP
dan PAN tidak menang kursi; untuk menghalangi
penciptaan suasana yang stabil yang mana orang yang
melanggar HAM dapat diadili; dan untuk menghilangkan
saksi-saksi pelanggaran selama masa DOM.
Bagaimanapun, terjadi sejumlah perubahan di Aceh.
Masalah-masalah hak azasi manusia menjadi perhatian
nasional - dan kadangkala diperhatikan secara
internasional - pada pertengahan tahun 1998, tak lama
setelah presiden Suharto turun. Wartawan datang
berbondong-bondong, demikian juga dengan LSM,
organisasi HAM dan wakil-wakil dari Komnas HAM.
Perkuburan massal digali, dan orang yang masih
bertahan hidup diwawancarai. Keterbukaan baru terhadap
pelanggaran – serta sejumlah kesaksian bahwa secara
umum yang melakukannya adalah tentara Indonesia -
dilanjutkan juga dengan unjuk rasa diplomatik dan
mahasiswa. Semua hal tersebut menyebabkan Menteri
Pertahanan dan Keamanan Wiranto untuk mencabut DOM,
yang berlangsung selama sepuluh tahun, secara tak
bersyarat di provinsi Aceh pada tanggal 7 Agustus
1998, dan meminta maaf atas kebijaksanaan DOM dan
kekejaman militer.
LSM lokal yang sebelumnya terhambat mulai menyelidiki
pelanggaran HAM yang terjadi selama dekade sebelumnya
secara lebih mendalam.
Pada saat yang sama, intelektual Aceh, LSM dan aktivis
partai melanjutkan pembicaraan mengenai bagaimana Aceh
dapat pulih kembali serta bagaimana merubah
hubungannya dengan Jakarta. Beberapa usul meliputi
pembentukan komisi indenpenden untuk mendengarkan
kasus-kasus HAM dan menuntut pelakunya, serta
mengundang penyelidik HAM internasional ke Aceh.
Ketika Presiden Habibie mengunjungi Aceh pada tanggal
26 Maret 1999 beliau menandatangani sejumlah
perjanjian, diantaranya untuk menolong menguburkan
kembali mayat-mayat dan menciptakan persamaan ekonomi
yang lebih baik untuk Aceh termasuk pembangunan
pelabuhan baru dan fasilitas kereta api. Pemerintah
Indonesia merencanakan untuk membuka sebuah cabang
Komnas HAM di Aceh pada bulan itu juga . Undang-undang
baru tentang pemerintahan daerah dan kesetaraan
ekonomi antara pusat dan daerah sedang dirancang.
Bagaimanapun, pada bulan Maret 1999 baru lima tentara
yang diadili untuk pembunuhan penduduk selama masa
DOM. Gugatan berdasarkan penyelidikan oleh pihak
Polisi Militer, dan sidang diadakan di mahkamah
militer yang dianggap tidak adil. Dan pelanggaran
tetap terjadi.
Menurut pihak polisi, yang terbunuh akibat kekerasan
politik pada bulan Mei dan juni 1999 di Aceh meliputi
: 69 penduduk; 29 anggota tentara dan polisi; 8
anggota GAM. Pada tanggal 2 Juli Wiranto mengatakan
bahwa pembunuhan dan pembakaran dilakukan oleh GAM,
dan kemudian bahwa kegiatan GAM telah mencapai tingkat
‘pemberontakan’. Pemecahan yang diusulkan adalah
pendirian komando militer baru di Banda Aceh.
Federal
Kelihatannya pemerintahan baru dibawah Megawati dengan
PDI-P tidak dapat diharapkan untuk mengendalikan
militer atau mengurangi peran daripada pemerintah
pusat. Tetapi partai PAN dipimpin Amien Rais yang
menang kurang dari 8% kursi di seluruh negeri telah
menunjukkan perhatian yang lebih dalam terhadap
masalah Aceh dan bersedia membicarakan model
pemerintahan federal. Pemenang di Aceh adalah partai
Islam PPP. Sebagian anggota partai tersebut bersedia
menawarkan pendekatan yang lebih desentalisasi, dan
pasti akan menanggapi masalah pelanggaran HAM di Aceh.
Tetapi jika PPP membentuk suatu koalisi di tingkat
nasional dengan Golkar, kecil kemungkinannya bahwa
masalah Aceh akan diperjuangkan.
Pagi hari pada tanggal 7 Juni, dua buah kendaraan kami
dipenuhi dengan pemantau pemilu lokal dan Australia
serta seorang wartawan dari Jerman kelihatannya
menjadi satu-satunya kendaraan yang berjalan dari
Banda Aceh ke Kabupaten Pidie. Polisi dan GAM telah
melarang penggunaan bus pada hari itu, dan tidak
seorangpun berani membawa kendaraannya di jalan.
Pemandangan pada subuh hari melewati kehijauan
pegunungan, dan melihat gajah dan monyet liar, juga
tidak menghibur hati kami.
Di Pidie kami tidak menemukan keadaan perang.
Kenyataannya, Kota Sigli yang biasanya selalu sibuk
nampak mati. Pada pukul 9 pagi, wakil-wakil partai
politik dengan tergesa-gesa mendirikan sejumlah TPS -
panitia non partai yang seharusnya bertugas telah
melarikan diri atau memang tidak pernah dibentuk.
Pemilih yang berjumlah sangat sedikit terlihat gugup
dan ingin keluar dengan cepat.
Kami mengetahui kemudian bahwa di Pidie hanya 13 buah
TPS dibuka dari yang seharusnya berjumlah 858. Hal
yang sama juga terjadi di Aceh Utara dan Aceh Timur.
Separuh dari 4 juta penduduk Aceh tidak mempunyai
kesempatan untuk menggunakan hak suaranya.
Tidak ada suasana kegembiraan, sebagaimana yang
terjadi di bagian lain di Indonesia, atau bahwa pemilu
kali ini adalah pemilu rakyat. Tetapi tidak ada juga
bukti bahwa GAM dan militer bermaksud menggelar suatu
pertikaian untuk masalah di Aceh, seperti diisyukan
selama ini. Isyu tersebut seperti permainan yang kotor
terhadap orang Aceh. Beberapa hari kemudian seorang
anggota PPD1 di Banda Aceh mengatakan bahwa keadaan
pasti menjadi tenang kembali karena ‘mereka telan
mencapai apa yang mereka inginkan’ untuk mengacaukan
pemilu. Satu tugas yang paling berat untuk
pemerintahan baru adalah menanggulangi ‘mereka’ itu,
bukan hanya di Aceh tetapi juga di Timor Timur,
Kalimantan, Ambon, dan daerah lain di seluruh
kepulauan di tempat provokator dan oknum bergerak
dengan bebas.

Vanessa Johanson bekerja di Kantor HAM, di Melbourne,
di Australia Council for Overseas Aid.. |