|
No. 61 Januari – Maret, 2000
Sebuah Pembicaraan Dengan Salah Seorang Aktivis
Menunjukkan bahwa Ada Lebih dari Satu ‘Masalah Aceh’
Maree Keating
Otto Syamsuddin Ishak adalah seorang pegawai negeri,
akademisi dan aktivis. Dia adalah dosen pertanian di
Universitas Syiah Banda Aceh dan menjadi pemimpin di
Cordova, sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang
menangani pendidikan masyarakat dibidang
kemasyarakatan dan hak asasi manusia. Dia juga
memiliki hubungan dengan divisi bersenjata Gerakan
Aceh Merdeka (GAM). Saya bertemu Otto di Melbourne
saat tur untuk menarik perhatian masyarakat bulan
Oktober yang lalu.
Sebagai orang luar, tampaknya masih banyak harapan
bagi Aceh. Presiden yang baru, Gus Dur mengatakan
bahwa ia siap berunding dengan GAM. Beliau membentuk
suatu portfolio baru untuk kementerian hak asasi
manusia dan menunjuk seorang aktivis hak asasi manusia
senior dari Aceh, Hasballah Saat untuk menduduki
jabatan tersebut. Selain itu, lebih banyak kelonggaran
mengenai hukum Syari’ah di Aceh telah diberikan. Aceh
tidak lagi ditetapkan sebagai Daerah Operasi Militer
(DOM), dan Jenderal Wiranto telah mengakui adanya
pelanggaran oleh militer.
Namun ketika saya bertanya kepada Otto mengenai
pendapat masyarakat Aceh terhadap kelonggaran tersebut,
dia secara blak-blakan mengatakan, “Tidak ada satu
kebijakan pun yang memberi harapan kepada kami, karena
baik Gus Dur dan Megawati memiliki prinsip yang sama –
mereka menginginkan suatu negara kesatuan dan tidak
memberikan indikasi apapun bahwa mereka akan
melepaskan Aceh.” Dia juga sama pesimisnya mengenai
Hasballah: “Tidak seorangpun benar-benar percaya bahwa
Hasballah akan berhasil, karena dia bukanlah seorang
tokoh yang kuat di Aceh. Masyarakat Aceh akan merasa
lebih terwakili jika yang dipilih adalah pemimpin PPP,
Ghazali Abbas Adan. Dia adalah satu-satunya orang yang
tepat untuk bicara mengenai hak asasi manusi di Aceh
kepada Jakarta.”
Menurut Otto, posisi Hasballah sangatlah dilematis –
dia berdiri diantara perjuangan masyarakat Aceh dan
militer Indonesia, yang masing-masing memiliki
ketekadan yang sama-sama kuat. Saya ingin tahu apakah
penolakan Hasbalah tersebut adalah sama seperti
menolak segala bentuk kooperasi, namun Otto
mengungkapkan: “Jakarta selalu membentuk tim (untuk
menyelidiki pelanggaran), tanpa konsultasi apapun.
Oleh sebab itu, masyarakat tidak lagi percaya dengan
tim-tim semacam ini, karena tidak satupun dari
anggotanya yang dapat dipercaya.”
Apakah Ghazali dapat dipercaya karena PPP mendukung
referendum untuk Aceh, sedangkan Hasbalah tidak
terlalu yakin dalam hal tersebut? Otto kelihatan ragu
untuk mengungkapkan perbedaan politik semacam ini,
mungkin karena menurutnya hak asasi manusia telah
menjadi isu yang menyatukan bagi pihak yang
memperjuangkan kemerdekaan. Otto mengatakan, “Saat ini
GAM memiliki perspektif hak asasi manusia, dimana hak
asasi manusia digunakan untuk mendapatkan dukungan.
Mereka menggunakan isu hak asasi untuk memobilisasi
masyarakat.”
Agama
Otto juga sangat waspada terhadap kelonggaran yang
ditawarkan Jakarta mengenai Syari’ah. Ia tampaknya
menganggap hal ini sebagai upaya Jakarta untuk memicu
konflik horisontal. Operasi Jilbab adalah fenomena
baru dimana para petinggi Islam memaksa masyarakat
untuk berbusana sesuai dengan aturan Islam yang ketat,
rajin beribadah dan bertingkah laku menurut aturan
agama. Masih belum jelas apakah Operasi Jilbab
menyebar secara spontan, berawal dari keinginan untuk
memperkuat peran agama dalam masyarakat ataukah
didorong oleh kekuatan luar yang bermaksud
mengembangkan suatu militan Islam yang dianggap
menindas oleh kebanyakan orang.
Ketika saya meminta Otto untuk menjelaskan peran agama
dalam konflik, ia mengatakan: “Itu sungguh merupakan
isu sekuler. Orang mencari keamanan dalam Islam
sebagai suatu identitas regional dan sebagai sarana
untuk bertahan hidup…. sehingga mereka tidak akan
merasa mati sia-sia….penyebab masyarakat beralih ke
agama bukanlah semata-mata karena GAM tetapi karena
masyarakat sendiri.”
Sangatlah sulit bagi saya untuk membayangkan bagaimana
rasanya hidup di tengah-tengah masyarakat yang sangat
taat kepada agama. Barangkali saya dapat memahami
versi Islam dari teologi pembebasan Kristen, tetapi
ketika masyarakat mulai mendiskusikan perang suci dan
penghukuman fisik secara terbuka, saya sadar bahwa
tidak semuanya dapat dengan mudah ditelaah oleh
masyarakat Australia. Saya rasa sangatlah aneh bahwa
Otto menganggap konflik Aceh sebagai sesuatu yang
sekuler, karena bagaimana mungkin sesuatu dianggap
sekuler dalam suatu masyarakat yang memberlakukan
Operasi Jilbab dan dimana pemimpin agama sangatlah
kuat?
Saya bertanya kepadanya mengenai skenario terburuk
yang dapat terjadi, dan jawabannya menunjukkan betapa
dalamnya perasaan agama di Aceh. Ia mengatakan
“Skenario terburuk yang dapat terjadi adalah
pertempuran terbuka. Para ulama telah menyatakan bahwa
jika referendum tidak terjadi dalam waktu enam bulan
berikut ini, mereka akan bertindak untuk melaksanakan
jihad. Jika para ulama menginginkannya, mereka akan
didukung oleh masyarakat.” Ketika ditanya bagaimana
perasaan Otto sendiri dan kalangan LSM mengenai
masalah tersebut, jawabannya menunjukkan bahwa
kekuasaan para pemimpim agama jauh lebih kuat dari
gerakan masyarakat umum anti kekerasan. “Kalangan LSM
khawatir mengenai apa yang mungkin terjadi, tetapi
mereka tidak cukup berani untuk mengungkapkan hal ini
karena mereka akan menjadi sasaran kemarahan
masyarakat.”
Kelihatannya gerakan referendum di Aceh terdiri dari
beberapa kelompok yang terkadang memiliki tujuan yang
berlawanan, termasuk bagian GAM yang bersenjata dan
tidak bersenjata, para pemimpin agama (yang terbagi ke
dalam kalangan ‘lama’ dan ‘baru’), mahasiswa, LSM dan
badan advokasi untuk masyarakat madani lainnya.
Sebenarnya tidak ada hanya satu gerakan Aceh.
Beberapa ulama gaya ‘lama’ telah kehilangan
kredibilitas karena memiliki hubungan yang terlalu
dekat dengan Golkar. Ulama tersebut sekarang ingin
memperoleh kembali dukungan masyarakat dengan
mendukung referendum. Menurut Otto, sembilan puluh
persen penduduk menginginkan referendum. Meskipun
kalangan pemimpin militan GAM pernah mengungkapkan
bahwa mereka tidak akan terlibat dengan pemerintah
‘Jawa’ dalam referendum, sikap tersebut telah berubah
baru-baru ini. “Jika para ulama menginginkan
referendum, GAM akan mendukungnya, meskipun sebelumnya
tidak demikian.
Namun jika sembilan puluh persen mendukung referendum,
masih belum jelas apakah masyarakat menginginkan Aceh
sebagai kesultanan atau republik demokratis. Otto
mengatakan: “Ada sebagian yang menginginkan demokrasi
(yang tidak menggunakan kekerasan) dan mereka yang
menginginkan kesultanan (yang menggunakan kekerasan).”
Ada suatu simbiosis antara keduanya, yang saling
menguntungkan. Para aktivis mahasiswa dan seluruh
kelompok yang mendukung masyarakat demokratis percaya
bahwa kesultanan tidak akan demokratis. Oleh karena
itu mereka mengambil inisiatif untuk melakukan
referendum.
Bagi masyarakat Australia yang ingin menanggapi
permintaan dukungan dari Otto, satu hal yang menjadi
tantangan adalah memahami tentang dialog macam apa
yang memungkinkan di Aceh. Jika kelompok-kelompok di
dalam Aceh sendiri takut untuk menentang suatu solusi
berupa kekerasan karena khawatir akan memicu kemarahan
masyarakat kepadanya, maka potensi akan dilakukannya
proses secara demokratis masih gawat.

Maree Keating adalah manajer program nasional
Australian Volunteers International untuk Indonesia.
Seluruh pandangan dalam artikel ini adalah pandangan
pribadi dan belum tentu pandangan AVI. |