|
No. 60, Oktober – Desember, 1999
Vanessa Johanson
Di daerah pegunungan di Kabupatan Pidie kami diantar
untuk pertemuan dengan Abdullah Syafiie, panglima
besar Gerakan Aceh Merdeka (GAM) atas wilayah Pidie.
Setelah pertemuan rahasia dengan pendukung GAM di
sebuah pompa bensin yang terbiar, kami ditemani selama
lebih dari satu jam melalui jalan darat ke sebuah desa
terpencil, dimana di tengahnya terdapat bendera bulan
sabit dan bintang berkibar tinggi. Di bawah bendera
sejumlah lelaki berdiri dalam pakaian samar membawa
senjata. Ketika kami memasuki lapangan, seratusan
perempuan berjilbab dan anak-anak memandangi kami dari
sebelah kanan, sementara di sebelah kiri ada sekitar
seratus laki-laki yang nampak seperti petani miskin.
Para pengawal mempersilahkan kami ke sebuah panggung
untuk bertemu Syafiie.
‘Assalamualaikum! Selamat datang ke negara Aceh’,
ujarnya dengan khidmat. Senjatanya tersangkut pada
pundaknya selama dia berbicara, dan di sebelahnya ada
sebuah buku tulis yang sudah lusuh berisi guntingan
dan dokumen – beberapa diantaranya telah begitu tua –
yang berhubungan dengan sejarah dan status Aceh.
Jawaban dari panglima tersebut sangat panjang, penuh
kemarahan dan dogmatis. Dia selalu menyebut tentang
kebutuhan akan perhatian internasional dan kerjasama
dengan masyarakat internasional, untuk memaksa
pemerintah Indonesia bertanggungjawab terhadap
‘pembantaian’ rakyat Aceh, dan untuk mengakui Aceh
sebagai negara yang berdaulat. Berikut ini adalah
wawancara yang telah diedit, yang berlangsung dalam
bahasa Indonesia.
Apa tujuan dan program dasar GAM?
Kami disini untuk mengembalikan hak rakyat Aceh
terhadap kedaulatan yang telah dirampas dari mereka
oleh Belanda pada tahun 1873. Aceh dari dulu telah
merdeka. Kami meminta bantuan masyarakat internasional
untuk mengakui ini. Bangsa kami telah diserang,
ditindas dan diperkosa oleh Belanda dan Indonesia.
Kami menanyakan : apakah keadilan di dunia ini hanya
ada di dalam buku? Kami berjuang karena kami berada di
negara kami sendiri – kami tidak ingin berperang
dengan Jakarta, tetapi kami harus mempertahankan diri
kami.
Apa sikap GAM terhadap Pemilihan Umum (Pemilu)
Indonesia?
Pemilu hanyalah propaganda buat dunia luar. Pemilihan
ini hanya untuk penjajah Jawa, bukan buat kami. Semua
hukum penjajahan di dunia ini telah dicabut dan
kolonialisme itu dilarang, tetapi di sini masih lagi
berlangsung.
Apa yang merupakan keadilan bagi Aceh?
Mereka yang bersalah harus dihukum. Hukum
internasional harus ditegakkan bagi kami. Apakah darah
kami berbeda dengan darah bangsa Yugoslavia? Dengan
darah bangsa Kuwait? Masyarakat internasional perlu
memperhatikan kami. Maka kami ingin bertemu dengan
wartawan asing, bertemu dengan teman-teman asing.
Bagaimana sikap GAM terhadap referendum [sebagaimana
diminta oleh sebagian orang Aceh, yang menawarkan
rakyat Aceh otonomi luas, federalisme ataupun
kemerdekaan]?
Kenapa kami harus melakukan referendum dengan Jawa?
Bangsa Jawa adalah penjajah. Memang mereka siapa untuk
mengadakan referendum? Kami ingin kemerdekaan dan
kemerdekaan saja.
Menurut pandangan Anda siapakah yang menjadi
provokator di Aceh?
GAM adalah gerakan politik bukan gerakan militer. Kami
mengerti mengenai Hak Azasi Manusia. Tentara lah yang
membakar sekolah-sekolah di Aceh dan menembaki orang
Aceh. Semua rumor mengenai pemilu dan kegiatan GAM
adalah kebohongan oleh pemerintah Indonesia. GAM tidak
pernah membunuh seorang rakyat Aceh ataupun merusak
harta benda rakyat Aceh. Semua orang Aceh adalah
saudara dan pendukung kami.
Anda memberitahukan bahwa GAM adalah gerakan politik.
Biasanya gerakan politik melakukan dialog dengan
berbagai pihak lain termasuk dengan lawannya – apakah
itu juga yang dilakukan GAM?
Tidak. Ini adalah cara yang salah untuk melanjutkan
masalah politik. Kami hanya ingin berbicara dengan
sahabat kami dalam forum masyarakat internasional.
Pemimpin kami di Swedia, Dr. Hasan, mempunyai begitu
banyak teman dari dunia internasional.
Organisasi internasional apa yang telah mendukung anda?
Organisasi Unrepresented Nations dan People
Organization dan lainnya yang tidak dapat kami
sebutkan.
Bagaimanakah bentuk pemerintahan jika anda memperoleh
kemerdekaan?
Kami akan mengembalikan status kami yang sebenarnya
sebagai sebuah kerajaan. Dr. Hasan Tiro akan menjadi
raja, yang sekarang ini tinggal di Swedia. Dia akan
kembali untuk memerintah Aceh.
Apakah demokrasi akan berlangsung di Aceh kemudian?
Apakah Syariah Islam akan berlaku?
Aceh akan berjalan sesuai dengan perintah Raja dan
berdasarkan hukum internasional.
Orang-orang yang bertahan hidup
Setelah satu jam bersama dengan Syafiie, kami dijamu
dengan air kelapa segar langsung dari buahnya, dan dia
mengajak sejumlah orang dari seratusan yang hadir di
bawah untuk naik ke panggung. Mereka adalah sekumpulan
orang yang tenang dan serius.
Seluruh orang di hadapannya, jelas Syafiie, adalah
korban dari kekejaman yang dilakukan oleh militer
Indonesia. Dia menunjukkan dua orang wanita yang
berjilbab – seorang berumur 40-an dan yang lainnya
masih remaja – ke suatu ruangan kecil yang gelap di
samping panggung. Kemudian dia mengarahkan perempuan
dari kelompok kami untuk masuk ke ruangan itu bersama
kedua perempuan tersebut dan menutup pintu. ‘Kau
tanyakan mereka apa yang dilakukan kepadanya,’ katanya
kepada kami.
Malu dan bingung, kami semua duduk di lantai dan
menjelaskan darimana kami berasal. Saya dan kawan saya
khawatir bahwa pertanyaan dari orang asing akan
membuat mereka semakin trauma. Tetapi secara tiba-tiba
perempuan yang tua itu mengeluarkan air mata. “Kami
sengsara!”, teriaknya. “Kami tersiksa!”.
Dengan menggunakan bahasa Aceh dan bahasa Indonesia
yang sepotong-potong, disertai dengan mimik wajah yang
menunjukkan penderitaan, kedua perempuan tersebut
menerangkan bagaimana mereka telah disiksa dan
diperkosa di kampung halaman mereka di depan
keluarganya oleh sekelompok tentara Indonesia dengan
tuduhan mereka telah menolong ataupun berhubungan
dengan anggota GAM. Perempuan muda mengalami hal
tersebut setelah pembatalan DOM (Daerah Operasi
Militer) pada tahun 1998. Kedua perempuan tersebut
membuka jilbabnya dan menunjukkan bekas sayatan dan
luka bakar di leher, payudara dan kaki mereka.
Di luar di atas panggung, kawan kami yang laki-laki
juga diberikan kesaksian – yang juga sangat
menyakitkan tetapi diceritakan seperti dongeng tentang
keberanian – dari segerombolan laki-laki.
Secara bergantian seolah olah kami sedang menonton
suatu hiburan yang mengerikan dipimpin oleh juru
pantun yang ideologis; dan bahwa kami melaksanakan
tugas penting yaitu mendengarkan kisah dari mereka
yang benar-benar perlu untuk menceritakannya. |