FeedbackSubscribeRelated LinksContact Us
 
      ANALISIS
 
 

 Aceh-Eye Analisis Inside Indonesia 1992..
    INSIDE INDONESIA
Dr Hasan Tiro akan Menjadi Raja

No. 60, Oktober – Desember, 1999

Vanessa Johanson

Di daerah pegunungan di Kabupatan Pidie kami diantar untuk pertemuan dengan Abdullah Syafiie, panglima besar Gerakan Aceh Merdeka (GAM) atas wilayah Pidie. Setelah pertemuan rahasia dengan pendukung GAM di sebuah pompa bensin yang terbiar, kami ditemani selama lebih dari satu jam melalui jalan darat ke sebuah desa terpencil, dimana di tengahnya terdapat bendera bulan sabit dan bintang berkibar tinggi. Di bawah bendera sejumlah lelaki berdiri dalam pakaian samar membawa senjata. Ketika kami memasuki lapangan, seratusan perempuan berjilbab dan anak-anak memandangi kami dari sebelah kanan, sementara di sebelah kiri ada sekitar seratus laki-laki yang nampak seperti petani miskin. Para pengawal mempersilahkan kami ke sebuah panggung untuk bertemu Syafiie.

‘Assalamualaikum! Selamat datang ke negara Aceh’, ujarnya dengan khidmat. Senjatanya tersangkut pada pundaknya selama dia berbicara, dan di sebelahnya ada sebuah buku tulis yang sudah lusuh berisi guntingan dan dokumen – beberapa diantaranya telah begitu tua – yang berhubungan dengan sejarah dan status Aceh. Jawaban dari panglima tersebut sangat panjang, penuh kemarahan dan dogmatis. Dia selalu menyebut tentang kebutuhan akan perhatian internasional dan kerjasama dengan masyarakat internasional, untuk memaksa pemerintah Indonesia bertanggungjawab terhadap ‘pembantaian’ rakyat Aceh, dan untuk mengakui Aceh sebagai negara yang berdaulat. Berikut ini adalah wawancara yang telah diedit, yang berlangsung dalam bahasa Indonesia.

Apa tujuan dan program dasar GAM?

Kami disini untuk mengembalikan hak rakyat Aceh terhadap kedaulatan yang telah dirampas dari mereka oleh Belanda pada tahun 1873. Aceh dari dulu telah merdeka. Kami meminta bantuan masyarakat internasional untuk mengakui ini. Bangsa kami telah diserang, ditindas dan diperkosa oleh Belanda dan Indonesia. Kami menanyakan : apakah keadilan di dunia ini hanya ada di dalam buku? Kami berjuang karena kami berada di negara kami sendiri – kami tidak ingin berperang dengan Jakarta, tetapi kami harus mempertahankan diri kami.

Apa sikap GAM terhadap Pemilihan Umum (Pemilu) Indonesia?

Pemilu hanyalah propaganda buat dunia luar. Pemilihan ini hanya untuk penjajah Jawa, bukan buat kami. Semua hukum penjajahan di dunia ini telah dicabut dan kolonialisme itu dilarang, tetapi di sini masih lagi berlangsung.

Apa yang merupakan keadilan bagi Aceh?

Mereka yang bersalah harus dihukum. Hukum internasional harus ditegakkan bagi kami. Apakah darah kami berbeda dengan darah bangsa Yugoslavia? Dengan darah bangsa Kuwait? Masyarakat internasional perlu memperhatikan kami. Maka kami ingin bertemu dengan wartawan asing, bertemu dengan teman-teman asing.

Bagaimana sikap GAM terhadap referendum [sebagaimana diminta oleh sebagian orang Aceh, yang menawarkan rakyat Aceh otonomi luas, federalisme ataupun kemerdekaan]?

Kenapa kami harus melakukan referendum dengan Jawa? Bangsa Jawa adalah penjajah. Memang mereka siapa untuk mengadakan referendum? Kami ingin kemerdekaan dan kemerdekaan saja.

Menurut pandangan Anda siapakah yang menjadi provokator di Aceh?

GAM adalah gerakan politik bukan gerakan militer. Kami mengerti mengenai Hak Azasi Manusia. Tentara lah yang membakar sekolah-sekolah di Aceh dan menembaki orang Aceh. Semua rumor mengenai pemilu dan kegiatan GAM adalah kebohongan oleh pemerintah Indonesia. GAM tidak pernah membunuh seorang rakyat Aceh ataupun merusak harta benda rakyat Aceh. Semua orang Aceh adalah saudara dan pendukung kami.

Anda memberitahukan bahwa GAM adalah gerakan politik. Biasanya gerakan politik melakukan dialog dengan berbagai pihak lain termasuk dengan lawannya – apakah itu juga yang dilakukan GAM?

Tidak. Ini adalah cara yang salah untuk melanjutkan masalah politik. Kami hanya ingin berbicara dengan sahabat kami dalam forum masyarakat internasional. Pemimpin kami di Swedia, Dr. Hasan, mempunyai begitu banyak teman dari dunia internasional.

Organisasi internasional apa yang telah mendukung anda?

Organisasi Unrepresented Nations dan People Organization dan lainnya yang tidak dapat kami sebutkan.

Bagaimanakah bentuk pemerintahan jika anda memperoleh kemerdekaan?

Kami akan mengembalikan status kami yang sebenarnya sebagai sebuah kerajaan. Dr. Hasan Tiro akan menjadi raja, yang sekarang ini tinggal di Swedia. Dia akan kembali untuk memerintah Aceh.

Apakah demokrasi akan berlangsung di Aceh kemudian? Apakah Syariah Islam akan berlaku?

Aceh akan berjalan sesuai dengan perintah Raja dan berdasarkan hukum internasional.

Orang-orang yang bertahan hidup

Setelah satu jam bersama dengan Syafiie, kami dijamu dengan air kelapa segar langsung dari buahnya, dan dia mengajak sejumlah orang dari seratusan yang hadir di bawah untuk naik ke panggung. Mereka adalah sekumpulan orang yang tenang dan serius.

Seluruh orang di hadapannya, jelas Syafiie, adalah korban dari kekejaman yang dilakukan oleh militer Indonesia. Dia menunjukkan dua orang wanita yang berjilbab – seorang berumur 40-an dan yang lainnya masih remaja – ke suatu ruangan kecil yang gelap di samping panggung. Kemudian dia mengarahkan perempuan dari kelompok kami untuk masuk ke ruangan itu bersama kedua perempuan tersebut dan menutup pintu. ‘Kau tanyakan mereka apa yang dilakukan kepadanya,’ katanya kepada kami.

Malu dan bingung, kami semua duduk di lantai dan menjelaskan darimana kami berasal. Saya dan kawan saya khawatir bahwa pertanyaan dari orang asing akan membuat mereka semakin trauma. Tetapi secara tiba-tiba perempuan yang tua itu mengeluarkan air mata. “Kami sengsara!”, teriaknya. “Kami tersiksa!”.

Dengan menggunakan bahasa Aceh dan bahasa Indonesia yang sepotong-potong, disertai dengan mimik wajah yang menunjukkan penderitaan, kedua perempuan tersebut menerangkan bagaimana mereka telah disiksa dan diperkosa di kampung halaman mereka di depan keluarganya oleh sekelompok tentara Indonesia dengan tuduhan mereka telah menolong ataupun berhubungan dengan anggota GAM. Perempuan muda mengalami hal tersebut setelah pembatalan DOM (Daerah Operasi Militer) pada tahun 1998. Kedua perempuan tersebut membuka jilbabnya dan menunjukkan bekas sayatan dan luka bakar di leher, payudara dan kaki mereka.

Di luar di atas panggung, kawan kami yang laki-laki juga diberikan kesaksian – yang juga sangat menyakitkan tetapi diceritakan seperti dongeng tentang keberanian – dari segerombolan laki-laki.

Secara bergantian seolah olah kami sedang menonton suatu hiburan yang mengerikan dipimpin oleh juru pantun yang ideologis; dan bahwa kami melaksanakan tugas penting yaitu mendengarkan kisah dari mereka yang benar-benar perlu untuk menceritakannya
.

 
 
  Copyright © 2012. aceh-eye.org all rights reserved. Pendapat dan saran silahkan kirim email kepada: programmes@eyeonaceh.org