|
November, 1999
Gerry van Klinken
Mereka menyelinap sebelum subuh, dengan muka dicoreng
hitam siap bertempur. Ketika dhuhur mereka membawa
laki laki dari sebuah desa kecil untuk berbaris, semua
laki laki tersebut adalah petani yang tidak bersenjata,
kemudian tubuh mereka berjatuhan dengan berondongan
peluru. Sedangkan dari laki laki yang merupakan guru
agama, digunakan granat dalam jarak dekat, karena
takut ada kekuatan mistik yang membuat dia kebal.
Ketika seorang putra guru agama tersebut merangkul
ayahnya dengan badan yang telah remuk, mereka
menembaknya.
Kecuali dibedakan oleh lemparan granat, pembunuhan
massal tersebut sebenarnya tidak berbeda dengan
kejadian tahun 1873, ketika tentara Belanda pertama
menyerang Aceh, dan menjadikannya bagian dari negara
yang kemudian menjadi Indonesia. Banjir darah di Blang
Meurandeh pada tanggal 23 Juli 1999 menunjukkan sifat
penjajahan dari negara Indonesia.
Kecuali ditandai dengan beberapa percobaan, selama
lebih dari seratus tahun negara tersebut menunjukakan
sifat terpusat dan tidak demokratik. Setiap kali
demokrasi dicoba, yaitu ketika pada tahun 1950-an dan
juga sekarang – terbukti bahwa daerah-daerah
menunjukkan sikap kritik. Aceh merupakan daerah yang
paling militan dari seluruh daerah yang ada. Yaitu
menuntut perubahan besar-besaran terhadap cara
Indonesia dalam memerintah.
Dalam sekejap, memang nampak seolah olah Jakarta di
bawah kepemimpinan baru akan melakukan pembaharuan
dalam menanggapi masalah Aceh. Yang mana peranan
terbaru di kabinet Presiden Wahid adalah urusan Hak
Azasi Manusia (HAM). Bahkan seorang aktivis Aceh pun
diangkat untuk mengisi peranan tersebut.
Dua minggu yang lalu, setelah pawai akbar pro
referendum di Aceh, Wahid mengumumkan bahwa sebuah
referendum di Aceh akan diadakan sebelum bulan Juli
2000. Sejumlah menteri kabinet dikirim ke Aceh dalam
rangka mempersiapkan sebuah kunjungan kepresidenan.
Pasukan tempur ditarik, menyusul penarikan polisi anti
huru hara sebelumnya. Wahid mengatakan bahwa beliau
telah berbicara dengan pimpinan GAM Hasan di Tiro di
pembuangan melalui telepon, yang mana menangis dan
meminta untuk bertemu dengan Presiden Indonesia.
Gus Dur adalah seorang pemuka agama. Dia sangat
menghargai itikad baik dan persaudaraan. Beliau juga
memiliki suatu kebiasaan yang manis yaitu menciptakan
suasana yang baik, sayangnya kemudian tidak diikuti
dengan tindakan nyata. Barangkali hal tersebut dapat
berhasil di lingkungan organisasi keagamaan, tetapi
berbeda untuk seorang presiden yang menangani masalah
pemberontakan di daerah-daerah. Selama baru sebulan
masa kepemimpinannya, dia telah berjanji lebih dari
apa yang dapat dilakukan.
Ternyata Gus Dur tidak berbicara dengan Hasan di Tiro
di Swedia, melainkan berbicara dengan sebuah kelompok
pecahan dari tentara GAM yang berkedudukan di
Malaysia. Kelompok tersebut lebih akomodatif dan tidak
mempunyai banyak pengaruh di Aceh. Bahkan ada tuduhan
dari kelompok lain bahwa GAM di Malaysia tersebut
melakukan transaksi curang dengan mata-mata militer
Indonesia.
Sementara itu, kunjungan kepresidenan dibatalkan –
Presiden berkunjung ke Timur Tengah, dan menurut para
komentator beliau bermasksud meminta jaminan bahwa
Timur Tengah tidak akan mendukung Aceh merdeka. Pasti
rakyat Aceh tidak senang.
Walaupun alasannya berbeda, pihak militer juga tidak
senang. Bagi TNI, hal yang terpenting bukanlah
persaudaraan tetapi keutuhan wilayah. Keengganan TNI
untuk melepaskan Timor Timur bahkan tak sebanding
dengan apa yang mereka berani lakukan untuk
mempertahankan Aceh.
Minggu lalu juru bicara militer tertinggi, Jenderal
Sudrajat, berkata bahwa tawaran Wahid mengenai
referendum hanyalah sebuah ‘pendapat pribadi’. TNI
juga menegaskan bahwa pemilihan hanya diadakan sebatas
peningkatan syariah saja, bukan masalah kemerdekaan.
TNI telah menyampaikan dengan jelas bahwa pengadilan
HAM di luar kekuasaannya tidak diinginkan. Lagipula,
walaupun terdapat suara protes di DPR dan media, TNI
tetap ingin darurat militer di sebagian daerah Aceh.
Pada saat pemberlakuan darurat militer terakhir di
Aceh, yaitu antara tahun 1990 – 1998, ribuan rakyat
meninggal.
Barangkali untuk mempertegas pesan tersebut, Menteri
Pertahanan dan Keamanan Juwono Sudarsono pada hari
Senin menyebut tentang kudeta di Pakistan. ‘Jika
pemimpin sipil tidak mampu menciptakan kehidupan
politik yang sehat dan independen, kami akan, entah
saat ini atau pada masa mendatang, kembali ke
pemerintahan dominasi militer, seperti di Pakistan dan
beberapa negara di Afrika,’ katanya.
Aceh diibaratkan sebagai Cheknya Indonesia. Pemerintah
pusat tidak dapat mengendalikan pemerintahan sipil di
provinsi. Senjata beredar dengan bebasnya. Seperti
halnya yang dialami Rusia yang pernah kalah, tentara
Indonesia tidak bersedia lagi memberikan kelonggaran.
Presiden Wahid mendapatkan banyak nasehat. Berbagai
kolom opini dan panitia dari parlemen telah
menyampaikan kepada beliau bahwa rakyat Aceh
menginginkan keadilan untuk pelanggaran HAM yang
terjadi di masa lalu. Tetapi Wahid juga terjebak
seperti jejeran pimpinan di Jakarta lainnya. Mereka
tidak menginginkan pertumpahan darah, namun juga tidak
akan menyerah ke wilayah. Walaupun bencana sudah
kelihatan di depan mata, mereka tetap tidak berani
merubah sistem pemerintahan pusat yang telah melayani
mereka dengan baik.
Apabila Gus Dur tidak mampu mengendalikan para dalang
pertikaian dari Jakarta, maka beliau tidak bisa
berharap bahwa rakyat Aceh yang menghendaki
penyelesaian damai untuk tetap bersikap sedemikian.
Jika darurat militer diumumkan, maka akan terjadi
pertumpahan darah yang akan merampas satu-satunya
kendaraan politik Gus Dur – popularitasnya – dan dapat
melemahkan kepemimpinannya sebelum berdiri kokoh.

(Artikel
ini diterbit di harian The Sydney Morning Herald, 26
November 1999) Gerry van Klinken, redaktur, majalah
‘Inside Indonesia’. |