FeedbackSubscribeRelated LinksContact Us
 
      ANALISIS
 
 

 Aceh-Eye Analisis Inside Indonesia 1999..
    INSIDE INDONESIA
Apakah yang Dimaksud Dengan Gerakan Aceh Merdeka?

Digest 89
November, 1999

Gerry van Klinken

Sedikit sekali yang kita ketahui tentang keadaan sebenarnya di dalam Gerakan Aceh Merdeka (GAM), tetapi menurut beberapa laporan media di Indonesia, GAM sekarang terdiri dari dua fraksi yang berlawanan. Perpecahan diantara fraksi tersebut dimanfaatkan oleh Jakarta yang mengatakan telah melakukan negosiasi dengan salah satu fraksi tersebut, sementara fraksi lainnya dengan keras menolak upaya kompromi.

Fraksi yang menolak kompromi adalah Gerakan Aceh Merdeka yang asli, lebih tepat menyebut dirinya Front Pembebasan Nasional Sumatera Aceh (ASNLF) dan secara resmi masih dipimpin oleh Hasan di Tiro dari pusatnya di Nordsborg, suatu daerah di kota Stockholm, Swedia. Di Tiro sendiri masih menolak untuk berbicara dengan pers. Letnan kepalanya Zaini Abdullah yang juga tinggal di Swedia adalah anggota dari kabinet pertama yang dibentuk semasa kunjungan singkatnya ke Aceh pada akhir tahun 1970an. Zaini Abdullah dan Di Tiro termasuk sebagian kecil dari orang-orang yang luput dari pembunuhan oleh kalangan militer Indonesia selama upaya penghancuran GAM.

Fraksi yang pernah berhubungan dengan Jakarta menyebut dirinya Majelis Pemerintahan Gerakan Aceh Merdeka (MP-GAM) dipimpin oleh Tengku Don Zulfahri, yang menyebut dirinya sebagai sekretaris jenderal GAM dan tinggal di lokasi yang dirahasiakan di Malaysia.

MP-GAM juga dilindungi oleh seseorang yang merupakan salah satu letnan pertama Hasan di Tiro yaitu Husaini Hasan, yang juga tinggal di pengasingan di Swedia, tidak jauh dari Hasan di Tiro. Husaini (60 tahun) memiliki kantor di Fitja, 18 km ke arah selatan Stockholm, bersama dengan Yusuf Daud (40 tahun). Husaini hadir dalam Forum Internasional tentang Aceh yang diselenggarakan di Washington DC pada bulan April 1999 atas nama Fron Pembebasan Aceh.

Salah satu mantan rekan Di Tiro yang sekarang mendukung fraksi lawannya adalah Daud Paneuek (alias Moh. Daud Husin, berusia 68 – Paneuek adalah nama panggilan yang berarti ‘Pendek’).

Menurut beberapa laporan (Tempo 19-25 Juli 1999), konflik antara kedua fraksi mulai muncul ketika Di Tiro yang diperkirakan berusia 76 tahun, menderita sakit pada awal tahun 1999 dan selanjutnya muncullah keresahan atas siapa penggantinya. Di Tiro menginginkan anaknya Karim Hasan yang ternyata seorang pengusaha sukses seperti ayahnya untuk mengambil alih kepemimpinan pergerakan tersebut. Namun Paneuek menginginkan putranyalah yang menjadi pemimpin.

Menurut laporan Tempo, Paneuek bersama dengan Husaini mengontak seorang pejuang GAM yang telah dilatih oleh kelompok Libia terkenal/ditakuti bernama Arjuna (27 tahun) dan memintanya menemui Hasan Di Tiro di Swedia untuk menyerahkan kepemimpinannya. Seperti sudah diduga, Arjuna disambut dengan penuh kemarahan di Swedia dan ‘dikeluarkan’ dari GAM. Namun atas restu dari kelompok Husaini, ia kembali ke Aceh dan membentuk kelompok pejuang sendiri. (Laporan dari sumber lainnya meragukan bahwa ia masih menentang Jakarta. Arjuna dilaporkan turun dari wilayah pegunungan di Aceh pada tahun 1998 dan melarikan diri ke Malaysia, tetapi ia kembali ke Indonesia melalui Jakarta pada awal tahun 1999 dan sejak saat itu dilaporkan ‘bertobat’ dan telah bertemu dengan beberapa pejabat pemerintah senior [Waspada 7 Januari 1999]. )

Isyu perpecahan ini diketahui secara publik pada tanggal 30 April 1999, ketika Hasan Di Tiro ‘mengusir’ Husaini Hasan dan antek-anteknya Daud Paneuek dan Mahmud Muhammad.

Kelihatannya jaringan bersenjata MP-GAM yang juga menyebut dirinya GAM dan menggunakan bendera yang sama, dipimpin di lapangan oleh Maulida (42 tahun) di Aceh. Maulida menganggap dirinya adalah Panglima Pengatur Strategi Angkatan Perang untuk daerah Pase (Aceh Utara). Pada tahun 1999 Maulida kerap kali dikutip sebagai juru bicara GAM oleh kalangan jurnalis dari media barat, yang nampaknya tidak menyadari adanya perpecahan antara kedua fraksi tersebut. Wawancara dengan Maulida dilakukan melalui telepon genggam.

Namun, saingannya mengatakan bahwa Maulida tidak lebih dari sekedar boneka TNI yang sangat dikendalikan oleh seorang ahli intelejen Indonesia yang berpengaruh yaitu Sjafrie Sjamsuddin (Panji Masyarakat 25 Agustus 1999). Dalam sebuah wawancara, Maulida memang mengakui bahwa ia memiliki ‘teman-teman’ di Kopassus, yang dia mengenal saat ia ditahan pada tahun 1990 dan tetap menjalin hubungan dengan yang bersangkutan sampai sekarang.

Saingan Maulida juga mengatakan bahwa Achmad Kandang, yang seperti Maulida juga beroperasi sekitar Lhokseumawe, memiliki kontak hubungan dengan Kopassus dan bahwa Achmad Kandang telah membentuk ‘GAM palsu’ yang melakukan pembakaran sekolah dan sebagainya.

ASNLP, GAM yang ‘asli’ kelihatannya masih memiliki lebih banyak tentara bersenjata di Aceh dibandingkan saingannya. Juru bicaranya yang paling menonjol adalah Abdullah Syafei’i Dimatang, 47 tahun, yang berjuang terus di hutan belantara selama 23 tahun, tetapi baru-baru ini juga muncul di depan pubik dan selama 4 bulan terakhir ini telah memberikan wawancara. Dia terkadang menyebut dirinya sebagai kepala pemerintahan Negara Islam Aceh Merdeka, wilayah Pidie. Kelompok tersebut memberikan gelar kepresidenan atau Wali Negara kepada Hasan di Tiro.

Oleh karena hubungan antara Aceh dan Swedia melalui Malaysia diblokir oleh lawannya, fraksi tersebut akhirnya menggunakan kontak mereka di Singapura untuk mempertahankan hubungannya secara internasional.

Fraksionalisasi tersebut terlihat sangat jelas saat ajang pertarungan melalui konferensi pers pada tanggal 23 November 1999, ketika Hasan di Tiro secara spesifik memecat Zulfahri. Perang mulut kemudian diikuti dengan pengumuman dari presiden Abdurrahman Wahid bahwa ia telah melakukan diskusi via telepon dengan GAM, suatu hal yang sangat ditentang oleh Hasan di Tiro. Barangkali tokoh yang dimaksudkan oleh Wahid adalah Zulfahri.

Agama memegang peranan penting untuk identitas yang dianut oleh masing-masing kelompok. Kelompok Zulfahri mengklaim bahwa mereka lebih Islam dari lawannya. Salah satu juru bicaranya menggambarkan Hasan di Tiro dan GAM Eropa sebagai kelompok sekuler, terpisahkan dari kehidupan masyarakat Aceh karena telah lama meninggalkan Aceh, terlalu takut untuk kembali ke Aceh atau bahkan untuk berbicara di media internasional, sehingga tidak dapat dikategorikan sebagai orang Aceh sejati.

Salah satu cara untuk menekankan klaim atas kesukuannya sebagai orang Aceh adalah dengan mengaku ada hubungan dengan para pahlawan Aceh. Husaini mengklaim bahwa ia memiliki hubungan khusus dengan Dr Muchtar bin Hasbi, yang memiliki hubungan dengan dengan kyai Daud Beureuh.

Beberapa sumber memiliki perbedaan persepsi mengenai kelompok mana dari kedua kelompok tersebut yang lebih ‘akrab’ dengan Jakarta, apakah kelompok Malaysia dibawah Zulfahri, dalam hal ini kelompok Husaini atau kelompok yang berpusat di Aceh, yang dipimpin Zaini dalam hal ini kelompok Hasan di Tiro.

Di satu pihak juru bicara militer Indonesia mengatakan bahwa Husaini dan kelompok ‘Islam revolusioner’ di Malaysialah yang bersikap lebih keras terhadap Jakarta, suatu pendapat yang juga diungkapkan oleh aktivis hak asasi manusia Otto Syamsuddin Ishak.

Di lain pihak, dugaan adanya perjanjian dengan kalangan militer Indonesia umumnya diarahkan kepada kelompok Husaini, meskipun hubungan dengan militer yang dimaksud adalah hubungan yang kotor. Menurut laporan Tempo mengenai fraksi tersebut, kelompok Husaini (yang dikenal sebagai kelompok Delapan) memiliki hubungan dengan pelaku bisnis Aceh melalui forum yang disebut Kelompok Aceh Sepakat.

Selain itu, kritikan Hasan di Tiro kepada Zulfahri pada tanggal 23 November 1999 nampaknya terlontar karena adanya pembicaraan awal dengan pemerintah Indonesia untuk melakukan negosiasi. Seorang jurnalis Indonesia (Gamma, yang secara terbuka bermusuhan dengan Hasan di Tiro) menyimpulkan, Zaini dan Hasan di Tiro berpegangan bahwa mereka akan berhubungan dengan Belanda, negara yang merupakan penyerang pertama ke tanah Aceh pada tahun 1873, tetapi tidak dengan Indonesia. Hal ini karena mereka benar-benar setia kepada kemerdekaan mutlak, sedangkan MP-GAM tidak keberatan dengan ‘kemerdekaan’ yang bernafaskan Islam, tetapi tetap menjadi bagian dari Indonesia.

Sebuah inisiatif yang diambil oleh gubernur provinsi Syamsuddin Mahmud bulan Juli lalu untuk membuka negosiasi dengan GAM ternyata gagal ketika delegasi yang terdiri dari lima orang pelaku bisnis Aceh yang bertindak selaku penengah bertemu dengan fraksi Zaini di Bangkok, dan kemudian bertemu dengan Suhaini di Swedia. Namun kelompok tersebut gagal untuk bertemu dengan Hasan di Tiro. Tampaknya kedua fraksi berminat untuk melakukan semacam negosiasi, meskipun kedua fraksi masih saling memegang garis kerasnya masing-masing.

(Hasan di Tiro adalah pengarang 'The Price of Freedom: The Unfinished Diary of Tengku Hasan di Tiro', Markham, Ont.: The Open Press, 1984. Informasi mengenai latar belakang tersedia di Tim Kell, The roots of Acehnese rebellion 1989-1992, Ithaca: Cornell Modern Indonesia Project, 1995; serta di Eric Eugene Morris, Islam and Politics in Aceh, UMI, 1985).

 
 
  Copyright © 2012. aceh-eye.org all rights reserved. Pendapat dan saran silahkan kirim email kepada: programmes@eyeonaceh.org