FeedbackSubscribeRelated LinksContact Us
 
      ANALISIS
 
 

 Aceh-Eye Analisis Inside Indonesia 1997....
    INSIDE INDONESIA
Pembelajaran di Aceh

No. 49 Januari – Maret, 1997

Pendidikan seharusnya membuka pintu menuju masa depan yang lebih cerah. Tetapi ketika biaya sekolah melambung setinggi langit dan murid pun tak lulus, apakah biaya tersebut terlalu tinggi? BARBARA LEIGH berbicara dengan Raziah, seorang ibu miskin di Aceh.

Menurut pepatah seorang dengan hutang menupuk dibilang ‘tercekik hutang’. Artinya, uang dipinjam dengan menggunakan rumah atau harta yang lain sebagai jaminan. Kemudian apabila cicilan tidak dibayar, pihak yang meminjam uang tersebut berhak untuk menyita rumah, tanah, perhiasan ataupun perusahaan yang digunakan sebagai jaminan. Cara penggadaian tersebut biasanya digunakan di kota-kota Australia untuk memperoleh rumah.

Di pedesaan di Indonesia, harga rumah adalah murah tetapi penduduk tetap ‘menggadaikan harta benda mereka’. Apa yang mereka beli? Mereka menanam modal untuk menyekolahkan anak mereka. Barang yang mereka beli adalah ijazah yang diberikan oleh lembaga pendidikan di Indonesia.

Mereka memperoleh uang untuk membayar sekolah dengan cara menggadaikan tanah, kerbau dan rumah, kadang-kadang dengan suku bunga yang tinggi. Untuk memenuhi biaya, semua anggota keluarga yang mampu, ikut mencari penghasilan pada setiap kesempatan dan waktu yang terluang.

Bagi orang miskin, situasinya lebih pedih. Mereka tidak mempunyai apa-apa untuk digadaikan.

Raziah

Berikut ini adalah kisah nyata dari pedesaan di Aceh. Tetapi sebenarnya keadaan serupa terjadi di seluruh Indonesia.

Raziah adalah seorang perempuan berusia 32 tahun. Dengan rambut panjang yang hitam tersanggul di kepala. Sarung yang dipakai di atas baju kerjanya yang ringan, cukup bersih tetapi warnanya telah luntur dan tipis. Suami Raziah meninggal pada tahun 1978. Dia mempunyai empat anak laki-laki. Anak yang pertama lahir ketika dia baru berumur 14 tahun, dan anak bungsunya lahir ketika dia berumur 24 tahun, tiga bulan setelah kematian suaminya. Dia tidak punya tanah dan tinggal dalam sebuah rumah kecil dengan lantai dari tanah, tempat dia bekerja untuk menyekolahkan keempat anaknya.

Dia merajut daun daun dari pohon rumbia ke sebatang bambu dengan menggunakan benang ikat rotan yang ditemukan di hutan. Setiap atap yang dibuat berukuran panjang dua meter dan lebar 60 sentimeter. Atap daun rumbia digunakan sebagai tutup atap rumah di kebanyakan rumah desa. Atap rumbia tersebut dipasang secara bertahap sepanjang kasau. Apabila atap dipasang dengan kurang rapat akan semakin sering bocor dan cepat menua. Dan meskipun rajutanya rapat, tetap saja atap tersebut perlu diganti setelah beberapa tahun karena menjadi busuk. Maka, setidaknya sebelum adanya atap seng, atap rumbia tersebut selalu dibutuhkan.

Madrasah

Putra tertua Raziah berumur 18 tahun dan sekarang duduk di kelas 2 SMP. Yang lain pada sekolah dasar. Walaupun anak nomor dua berumur 14 tahun, dia masih duduk di kelas 4 Madrasah Ibtidayah Negeri (MIN), sekolah dasar agama Islam. Anak nomor tiga berumur 11 tahun, dan duduk di kelas 1 pada sekolah dasar negeri. Dan anaknya yang bungsu berumur 8 tahun. Dia juga kelas 1 tetapi masuk madrasah, sehingga dia tidak akan berada satu kelas dengan abangnya. Disamping itu juga, biaya pendidikan di MIN lebih murah.

Sebelum Raziah dapat bekerja, dia harus meminta izin dulu kepada penduduk desa untuk mengambil daun rumbia. Ketika atap ini terjual, dia menerima Rp. 125,- (9 sen Australia) untuk masing-masing atap. Dari jumlah tersebut, sebanyak Rp. 40,- harus dibayarkan kepada pemilik pohon rumbia. Keuntungan yang diperoleh adalah Rp. 85,- untuk setiap atap. Pendapatan tahunan Raziah mencapai sekitar Rp 80.000 - Rp 100.000 (sekitar $60 -$80 dolar Australia).

Sementara biaya sekolah bagi masing-masing anak secara berturutan adalah Rp. 20.000, Rp. 2.500, Rp 10.000 dan Rp. 2.500. Sehingga jumlah yang harus dikeluarkan setiap tahun adalah Rp. 35.000,-.

Hutang

Selain biaya sekolah tersebut, Raziah harus membeli pakaian dan makanan untuk dia dan keempat anaknya, juga biaya kesehatan jika sakit. Gubuknya adalah warisan dari suaminya yang sudah meninggal, sehingga dia tidak perlu untuk membayar sewa. Dia juga harus membeli kayu bakar untuk memasak, dan sejumlah perabot rumah. Anak-anaknya tidur di tikar di atas alas kayu di lantai. Apabila salah satu anaknya bermaksud kawin, Raziah harus membayar mas kawin kepada orang tua pengantin perempuan. Karena dia tidak punya, tidak banyak yang akan diharapkan oleh keluarga pengantin tetapi paling tidak dia akan berutang lagi untuk mengusahakan perkawinan yang terbaik bagi setiap putranya.

Perlukah Raziah menyekolahkan anak-anaknya? Pertanyaan tersebut menjengkelkan, dan sering dipertimbangkan oleh orang tua dengan pendapatan rendah. Selain dari masalah hukum bahwa pendidikan adalah wajib, Raziah juga merasa bahwa sekolah merupakan peluang bagi anaknya untuk memperbaiki nasib mereka. Dia juga merasa bahwa anaknya memperoleh sesuatu yang sebelumnya dia tak dapatkan; bahwa pendidikan adalah sesuai dengan ajaran agama Islam; bahwa dirinya akan lebih dihormati karena anak-anaknya bersekolah dan bukan hanya petani.

Seluruh tenaga Raziah digunakan untuk pendidikan anak-anaknya. Bukan semata-mata karena masalah gender. Jika dia mempunyai anak perempuan, dia juga akan bekerja untuk menyekolahkan mereka. Para orang tua bekerja keras untuk menghasilkan biaya yang diperlukan untuk membayar sekolah. Tentu saja biaya tersebut semakin tinggi apabila bunga dari uang pinjaman juga harus dibayar.

Perempuan menjalankan dua tugas secara serentak yaitu menjalankan tugas sebagai ibu rumah tangga dan bekerja untuk mendapatkan uang. Kasus Raziah menyoroti pembagian tugas gender, karena dia adalah satu-satunya pencari nafkah di sebuah rumah tangga yang terdiri dari laki-laki. Anak yang pertama, dan mungkin yang kedua, seharusnya dapat membantu pekerjaan Raziah setiap hari. Tetapi anak tersebut berangkat ke sekolah pada pagi hari, yang sulung berangkat pagi jam 6.30 karena harus berjalan kaki sejauh 4 km ke SMP. Keadaan tersebut merupakan kehilangan kesempatan untuk menggunakan tenaga anaknya dan semuanya harus ditanggung oleh Raziah sendiri.

Tetapi sebenarnya yang paling sulit diterima oleh Raziah adalah perubahan dalam sikap anak-anaknya. Anak-anak memandang bahwa atap yang dia hasilkan sudah termasuk barang-barang yang tidak sesuai dengan ‘perkembangan’. Bahwa dia membuat barang yang tidak layak digunakan dalam sebuah rumah modern. Atap seng sudah menjadi lebih populer sebagai bahan atap di desa. Raziah mewakili generasi tua, bukan yang baru, dan generasi baru yang lebih dihargai.

Tidak ada yang dapat dilakukan Raziah untuk membantah sikap tersebut. Di lubuk hatinya, dia juga merasa begitu. Dia menerima nasibnya dengan ketabahan, dan terus bekerja keras. Ini bukanlah jenis pekerjaan yang ingin dia lakukan, tetapi tidak ada pilihan lain. Bagaikan seekor lebah yang telah mengeluarkan sengatnya pada usia 30 tahun, kehidupan dia telah dikorbankan untuk generasi berikutnya.

Putus Sekolah

Apa yang dipelajari oleh putra Raziah di sekolah? Pada tingkat formal, mereka belajar sejumlah pelajaran yang akan memperkenalkan segala sesuatu sehubungan dengan negara Indonesia dan kewajibannya sebagai warga negara. Mereka belajar keterampilan matematika dan pengetahuan tentang alam sekitarnya. Dalam ujian, mereka harus memilih jawaban yang benar dari sejumlah pilihan, atau untuk menjawab benar atau salah terhadap suatu pernyataan yang diberikan.

Dengan demikian secara tak resmi, mereka belajar bahwa semua pemikiran adalah benar atau salah, dan bahwa untuk berhasil di sekolah mereka harus menghafal jawaban yang benar. Di sekolah mereka tidak diajar mengenai kebebasan diskusi, bahwa kata-kata bisa saja dimanipulasi, dan bahwa anak memiliki daya cipta yang luar biasa sehingga mampu melihat warna langit adalah merah padahal jawaban yang benar adalah biru.

Yang kedua, anak Raziah belajar bahwa bagaimanapun kerasnya mereka bekerja, tidak ada kemungkinan mereka akan dapat melanjutkan pendidikannya, karena keadaan ekonomi ibu mereka. Sebenarnya mereka belajar bagaimana mengatasi perasaan kurang berpendidikan dalam dunia yang semakin menuntut izajah. Dalam bahasa pegawai pendidikan, murid yang menamatkan SMP tetapi tidak melanjutkan ke SMA disebut anak putus sekolah, dan bukan lulusan. Maka lembaga pemerintah menilai anak seperti putra Raziah dengan sangat negatif.

Akhirnya, mereka belajar bahwa keluarga mereka adalah terbelakang, belum maju, dan bahwa sumber pendapatan rumah tangga adalah hasil pembuatan produk oleh ibunya yang dipandang bukan bagian dari dunia modern.

Biaya setinggi apa?

Pengembangan melalui pendidikan secara umum dianggap penting. Belajar membaca dan menulis membuka peluang untuk menjelajahi ilmu pengetahuan yang begitu luas, entah karena bisa membaca petunjuk di botol obat, menulis surat kepada sanak saudara atau belajar tentang seluk-beluk pembangunan jembatan. Keyakinan terhadap apa yang dikenal dengan perkembangan sumber daya manusia merupakan proses perubahan sikap yang sedang berkembang di seluruh daerah pedesaan di Indonesia. Pengajian terhadap proses tersebut perlu dilakukan dengan pikiran terbuka.

Kita sudah terlalu percaya bahwa pendidikan adalah merupakan suatu hal yang baik. Begitu banyak tekanan moral yang diberikan untuk pendidikan dalam ajaran Islam, India, dan Cina, ataupun tradisi Kristen-Yahudi. Tidak ada penyelesaian yang mudah terhadap dilema tersebut. Pemecahan yang ditawarkan oleh Ivan Illich yaitu untuk mengurangi peran sekolah di masyarakat adalah terlalu sederhana. Namun pendirian tersebut menimbulkan beberapa pertanyaan yang penting. Apa perbedaan antara pendidikan dan persekolahan? Berapa biaya yang dibayar? Siapakah yang membayar? Dalam hal apa ada gunanya?



Barbara Leigh menyelesaikan skripsi S3 tentang sistem pendidikan di Aceh di Sydney University pada tahun 1993. Dia adalah dosen Kajian Asia Tenggara di Institute for International Studies, University of Technology Sydney.

 
 
  Copyright © 2012. aceh-eye.org all rights reserved. Pendapat dan saran silahkan kirim email kepada: programmes@eyeonaceh.org