|
Juni
1995
Seorang anak Aceh menuturkan cerita pencarian
keluarganya setelah terpisah pada tahun 1990 dipuncak
penyerbuan Indonesia di Aceh, Sumatera Utara.
Saya masih mengingat tahun 1990 dengan jelas. Adalah
masa yang sangat membingungkan di kampung kami.
Tentara dimana mana. Kala itu saya berumur sebelas
tahun.
Kebanyakan dari tentara tentara itu berasal dari suku
Batak. Mereka bukan orang Muslim dan tidak menghargai
ajaran agama Islam. Masyarakat hidup penuh dengan
ketakutan dan kecurigaan. Keadaan yang benar benar
tidak menyenangkan karena tidak ada seorangpun yang
nampak percaya lagi kepada orang lain dan setiap orang
takut terhadap orang lainnya, bahkan orang orang yang
saling mengenal sepanjang hidupnyapun, seperti para
tetangga dan teman teman.
Suatu pagi kita hendak sholat subuh dan menyaksikan
jasad jasad tergeletak dipinggir jalan yang tidak
berada disana dimalam sebelumnya ketika kita pulang
dari shalat Isha. Biasanya jasad tersebut adalah orang
yang berasal dari kampung lain yang tidak kami kenal.
Kadang kadang tangan mereka diikat dipunggung dan
ditembak dikepalanya. Akan tetapi bila seseorang di
desa mengenali jasad tersebut, maka ia tidak akan
menampakkan hal itu karena ketakutannya pada tentara.
Saya menerima kejadian itu sebagai bagian dari
kehidupan di kampung kami. Aturan adalah aturan dan
setiap orang harus hidup dengan aturan. Ibu melarang
saya untuk tidak melihat jasad jasad tersebut sehingga
saya segera pergi apabila rasa keingin tahuan
mengganggu. Jika saya melihat, ibu bilang, tentara
akan menghajarku dan mengambil ibu dan ayah. Sayapun
masih mengingat bagaimana tentara tentara itu
menendang dan memukulku ketika aku berumur empat tahun.
Di saat mereka menangkap ayah saya untuk kemudian
dimasukkan penjara. Mereka menyiksa ayah saya dan
memperlakukannya dengan sangat biadab. Menurut ibu,
mereka tidak punya bukti yang kuat. Sehingga ayah
dilepaskan.
Pendatang baru dari Jawa mendapat perlakuan dan
kehormatan khusus di desa kami. Menurut ayah hal ini
adalah bagian dari keputusan transmigasi pemerintah
Jawa untuk mendatangkan tujuh juta orang Jawa di Aceh,
yang akan melipat tiga jumlah penduduk di tanah kami
dan mengalahkan jumlah orang Aceh dengan dua dibanding
satu. Mereka menduduki tanah tanah yang mereka sukai
dan tidak seorangpun dari kami bisa berbuat apa apa.
Hal itu menyebabkan kebingungan dan kecemasan
sedangkan tentara tentara selalu berpihak kepada
mereka.
Militer membuat sebuah sistim informant. Setiap laki
laki yang berumur diatas 18 tahun harus ambil bagian
dalam menjalani tugas sebagai penjaga malam dan
melaporkan siapa saja yang keluar rumah atau orang
luar desa yang mengunjungi rumah rumah di malam itu.
Jika salah satu dari penjaga malam itu tertidur ketika
bertugas, mereka akan dimasukkan kedalam lumpur
setelah sholat subuh sebagai hukuman. Mereka diminta
melepas songkoknya (topi yang dipakai orang Muslim)
lalu badannya dicelupkan ke lumpur. Petani petani yang
sepanjang hari bekerja di sawah sering tertidur.
Seorang laki laki yang sangat takut akan ditangkap,
bertanya kepada bapak saya tentang penyiksaan. Bapak
bilang bahwa petugas interogasi meremas bola kemaluan
orang sampai pingsan. Kadang kadang mereka masukkan
kawat kedalam penis sampai orang tersebut mati. Salah
seorang teman keluarga harus mengkhianati orang lain
dan menceritakan sesuatu tentang orang itu, kalau
tidak tentara tentara akan menghabisi seluruh keluarga
teman tersebut. Apabila penguasa mencium adanya
seseorang yang mendukung ASNLF atau GPK maka tentara
akan mencarinya dan membunuh setiap anggota keluarga
orang tersebut bahkan sampai membunuh temannya.
Ayah pergi meninggalkan rumah
Suatu hari ayah saya pergi meninggalkan rumah. Sebelum
ia pergi, saya lihat ayah bicara kepada ibu dengan
nada yang pelan. Kemudian saya tidak melihat beliau
lagi selama hampir setahun. Sembilan hari kemudian
tentara tentara datang kerumah kami.
Mereka mengancam ibu saya bahwa mereka akan membunuh
anak anaknya jika tidak mengaku dimana keberadaan
ayah. Namun ibu memang benar benar tidak tahu. Tak
seorangpun dari kami tahu kemana ayah pergi. Ibu
menangis ketika mereka memeriksa seluruh isi rumah.
Tentara tentara itu menyuruh setiap laki laki yang ada
didalam rumah untuk keluar.
Kita semua diluar menunggu dan bingung harus bertindak
bagaimana, sementara ibu sendirian bersama tentara
tentara itu. Lalu seorang tentara keluar dan
menyeretku kedalam rumah. Menunjukkan foto kedua kakak
laki laki ku, yang berumur 19 dan 20 tahun, tentara
itu menanyakan dimana mereka. Memukulku dan mengancam
hendak melemparkanku kedanau jika aku tidak mengaku.
Lalu mereka beranjak dari rumah kami. Setelah mereka
pergi kami kehilangan kaleng uang tabungan kedua
kakakku.
Kemudian ada kabar bahwa mereka telah menangkap kedua
kakak saya dengan beberapa orang Aceh lainnya yang
tinggal di rumah pekerja ditepi danau. Tentu saja
mereka tidak menangkap orang orang Jawa yang juga
tinggal dirumah itu.
Setelah berbulan lamanya barulah ada kabar tentang
kedua kakak saya. Yaitu kabar yang sangat tidak
menyenangkan. Salah seroang tetangga kami menyampaikan
adanya jasad seorang pemuda telah ditemukan dijalan
tetangga desa. Ibuku pergi kedesa itu dan jasad
terebut adalah jenazah kakak saya. Badannya penuh
memar dan luka luka dan kemaluannya membiru, walaupun
jenazah tersebut belum sampai sehari tergeletak disana
ketika ibu datang. Kemudian kami juga mendengar bahwa
kakak satunya telah diangkut ke markas ankatan darat
di Medan.
Sekembali dari memakamkan kakak tertua saya, ibu
memanggil guru agama kami, Shahid, untuk datang
kerumah. Aku menganggap Shahid layaknya seperti
seorang paman, Ibu meminta dia mengantarkan aku ke
Medan untuk mencari kakak.
Sesampai di Medan kita tinggal di hotel dan ustadz
Shahid keluar mencari tahu keberadaan kakak saya dari
seorang pemilik toko perhiasan emas Aceh. Ketika
kembali malam itu, dia mendapatkan berita bahwa
Saifudin telah dilepaskan dari tahanan Militer tetapi
mereka telah menganiayanya dengan keji maka dia
menjadi gila. Sekarang kakak tinggal di sepanjang
jalan di Medan.
Hari berikutnya kami mulai mencari kakak. Setelah
bertanya ke banyak orang dijalan akhirnya kami temukan
dia. Maka benarlah cerita bahwa dia memang tidur di
jalan jalan. Kakak berpakaian compang camping seperti
seorang pengemis. Dia tidak mengenali kami dan menjadi
sangat takut terhadap orang yang tidak dikenalinya.
Dia sangat ketakutan dengan segala yang terbuat dari
logam dan tidak mau lagi duduk di kursi. Apabila
berdiri lalu berjalan ia nampak terpincang pincang.
Shahid mengupayakan kakak untuk berobat kerumah sakit
dan dan memberikan perlakuan yang paling baik untuk
menenangkannya. Barulah kita kembali ke desa.
Sesampai dirumah, rumah kami telah terlantar dan
kosong. Sebagian dari rumah itu terbakar hangus.
Seluruh perabotan berserakan. Saya melihat seorang
teman sebaya, namun ketika saya coba bicara dengannya,
ibunya berserapah kepadanya ‘jangan bicara dengan
orang itu’. Shahid memutuskan bahwa kami tidak aman
lagi di sekitar sini. Dengan perasaan sedih guru dan
saya naik bis menuju ke desa lain.
Dalam Pelarian
Ditengah perjalanan ada operasi dan banyak tentara
yang masuk kedalam bis meneriaki setiap penumpang dan
memukul beberapa dari penumpang. Mereka mencoba
memegang seorang gadis muda yang duduk tepat didepan
kami. Lalu mulai bertindak terhadap guru saya. Mereka
mulai berteriak kepadanya, menuduhnya bagian dari GPK.
Guru saya tidak bilang sepatah katapun selain
menggelengkan kepada dan senyum. Lalu salah seorang
tentara itu menembak tepat dikepalanya. Mungkin Shahid
mati seketika itu juga sambil tersenyum. Darahnya
semburat kebadan saya. Namun saya duduk saja sambil
menggigil ketakutan, berdoa agar mereka tidak
menembakku juga. Apakah yang bisa saya perbuat?
Kemudian mereka menembak Shahid beberapa kali lagi
dibadannya sembari ia lunglai tersenyum dan mati di
kursi sebelahku. Saya masih ingat perasaan bingung
mengapa mereka melakukan hal itu, sudah jelas bahwa ia
telah mati.
Tentara tentara itu kemudian menjambak rambutku dan
menyeretku keluar dari bus. Mereka lemparkan jasad
Shahid ketepi jalan disuatu tempat dimana juga sudah
banyak sekali jenazah. Saya kira mereka telah
menghentikan banyak sekali bis yang lewat. Kemudian
bis itu disuruh melanjutkan perjalanan dan saya
tinggal disana dengan tentara tentara itu. Saya
mencoba untuk tetap tenang dan diam. Saya pura pura
sangat ketakutan lebih daripada apa yang sebenarnya
supaya tentara itu yakin bahwa aku tidak akan berbuat
sesuatu untuk melarikan diri.
Beberapa saat kemudian ketika perhatian tentara
tentara tidak lagi tertuju kepada saya saya berusaha
melarikan diri. Dua orang tentara melihatku ketika aku
memasuki hutan dan aku dengar tiga tembakan ditujukan
kesaya. Saya berlari dan merangkak di semak semak
sampai jarak yang cukup jauh dari kawasan
pemberhentian jalan tersebut. Lalu saya berbaring
disemak semak menunggu tanpa bersuara.
Esok paginya ketika saya bangun dan saya lihat bahwa
tentara tentara itu memang telah pergi saya berjalan
searah dengan bis yang bepergian ketika dihentikan
kemarin. Saya tidak tahu dimana keberadaanku saat itu
namun setelah berjalan sekitar satu jam saya tiba
disuatu desa. Diujung desa itu saya melihat dua jasad
ditepi jalan. Saya dengar suara tembakan dari kejauhan.
Seorang laki laki dan anak didepan sebuah rumah
menyampaikan bahwa tentara tentara datang kedesa itu
dipagi buta dan menembak orang orang dengan seenaknya.
Katanya karena adanya seorang bocah yang lepas dari
tangan tentara tentara disaat operasi dijalan tadi
malam. Saya ketakutan sekali bahwa bocah itu adalah
aku dan sayalah alasan dari penembakan dan jasad
dipinggir jalan itu. Saya menggigil ketakutan.
Saya tidak jadi masuk desa itu namun tetap berjalan
sampai berpapasan dengan kendaraan pengangkut kayu
yang kebetulan berhenti ditepi jalan. Sopir kendaraan
itu sedang beristirahat di dibelakang setirnya. Dia
bersedia mengantarkan saya sampai ke Medan setelah
menjemput beberapa potong kayu di jalan utama. Saya
merasa sangat lega mendapatkan teman dan merasa lebih
aman. Sopir itu menanyakan banyak hal mengenai diri
saya dan mengapa saya hendak pergi ke Medan sendirian.
Saya barus membuat cerita.
Sendirian di Medan
Saya tidak merasa takut karena sendirian di kota asing
diluar Aceh. Yang terpenting saat itu adalah untuk
menemukan keberadaan orang tua dan keluargaku lagi dan
setelah apa yang saya saksikan maka saya yakin tidak
akan pernah melihat mereka lagi.
Medan sangatlah jauh dari desa saya, diluar daerah
saya dan saya tidak kenal seorangpun disana, memang
masih di Sumatera tapi bukan bagian dari Aceh, dan
orang orang disana berbicara dengan bahasa lain yang
biasa saya gunakan. Disini saya harus berbahasa
Indonesia supaya dimengerti orang. Jika cerita ke
orang tentang hidup saya atau berbicara dalam bahasa
Aceh dan mereka menyadari asal usul saya bisa
menyebabkan masalah untuk saya. Tapi Medan adalah kota
besar dan bocah kecil seperti saya ini dengan mudah
tersesat di tengah tengah kerumunan. Benarlah, maka
saya benar benar tersesat, tapi segera saya sadari hal
ini ada untung dan ruginya. Pun, betapa sulitnya saat
itu karena tidak dapat menceritakan kepada seorangpun
tentang apa yang telah saya alami.
Pertama tama yang aku lakukan adalah pergi ke terminal
bis. Saya pikir pasti akan ketemu seseorang yang saya
kenal disana atau paling tidak seorang dari daerah
desa saya. Maka beberapa jam kemudian saya mendengar
dua pemuda yang baru turun dari bis berbicara bahasa
Aceh. Saya beranikan diri untuk menyapa mereka dalam
bahasa kami. Namun setelah saya ceritakan pengalaman
saya, keduanya mulai menoleh kiri kanan, saya dapat
melihat kecemasan mereka. Mereka bilang bahwa terlalu
bahaya untuk membantu saya namun mereka antar saya
kepada seseorang yang bisa memberiku pekerjaan untuk
menjual koran di pinggir jalan.
Maka itulah yang saya kerjakan sampai beberapa bulan.
Biasanya saya berdiri di penyeberangan jalan dan
menjual koran kepada sopir sopir mobil yang sedang
macet di jalan. Saya pikir mereka dalam keadaan
terjebak untuk membeli koran. Dimalam hari saya duduk
di pinggir jalan dan menyemir sepatu orang orang yang
lewat dijalan itu.
Saya selalu mendapatkan uang yang cukup untuk makan
minum setiap hari. Selama masa itu, aku tetap selalu
mencari kabar kabar mengenai keberadaan keluargaku.
Setiap kali ada orang yang berbicara dalam bahasa Aceh,
saya selalu mendengarkan untuk menangkap darimana asal
mereka dan kadang kadang mencoba berbagai cara untuk
bercakap cakap dengan mereka. Pun, saya harus sangat
berhati hati. Kejadian yang menimpah keluargaku
membuat saya dalam bahaya sehubungan dengan penguasa
dan kebanyakan orang sangat takut terhadap kejadian
semacam itu, meskipun kejadian demikian biasa terjadi
didesa kami.Tentu saja, selain dengan orang Aceh saya
tidak akan menyampaikan pengalaman hidup saya sama
sekali.
Saya senang mempunyai pengalaman itu karena memberikan
pelajaran untuk menjadi kuat. Saya tinggal bersama
beberapa bocah bocah kecil lainnya di bawah atap yang
menjembatani dua rumah yang bisa dipindahkan.
Berita dari Malaysia
Setelah beberapa bulan kemudian suatu hari orang Aceh
yang mengantar saya untuk mendapatkan pekerjaan itu
datang mencari saya. Mereka menyampaikan bahwa tidak
ada kabar mengenai keberadaan Bapak saya akan tetapi
ada kepastian akan kepergian Ibu, kakak dan adik
perempuan saya ke Malaysia. Paling tidak sekarang ada
kabar mengenai keluarga saya yang hilang! Namun
bagaimana caranya aku bisa ke Malaysia? Orang yang
membawa kabar itupun memberiku alamat seseorang di
pelabuhan Dumai yaitu seorang pemilik perahu. Jadi
saya ambil uang tabungan dari menjual koran untuk
berangkat ke Dumai.
Orang yang di Dumai tersebut menjalankan kapal
penyeberangan dari selat Malaka ke Malaysia secara
ilegal. Dia rupanya tersentuh oleh keadaan saya dan
karena saya tidak punya uang maka saya bisa bekerja
dengan dia sebagai upah penyeberangan. Maka selama
tiga bulan saya bekerja sebagai tukang bersih bersih
kapal dan pekerja serabutan lainnya di geladag kapal.
Saya tidur di di gudang perahu bersama dengan pekerja
pekerja lainnya.
Banyak sekali orang menemui Ramli, majikan saya.
Sering sekali seluruh anggota keluarga. Kadang kadang
di tengah malam saya mendengar berbagai suara dan
kesibukan orang orang menaiki kapal bila demikian saya
tahu bahwa sekelompok orang hendak menuju ke Malaysia.
Setelah tiga bulan disuatu hari majikan menyuruh saya
bergabung dengan penumpang lainnya dan bekerja di
dalam kapal. Akhirnya datanglah kesempatanku untuk ke
Malaysia dan segera bertemu dengan ibu lagi ! Saya
harus bekerja dalam kapal itu, melayani penumpang
penumpang yang sudah membayar dan tidak ada kesempatan
ataupun tempat untuk tidur. Ketika perahu mulai melaju
di kegelapan, malam terasa sangat panjang. Tidak ada
bulan dan lampu juga tidak diperkenankan di dalam
perahu supaya tidak di tangkap oleh penjaga pesisir
Malaysia.
Kita tiba pagi pagi benar di hari berikutnya. Kapal
itu menurunkan kami di air dangkal untuk selanjutnya
kita berjalan sendiri ke daratan. Kita diberitahukan
namanya ‘Klang’. Namun tidak ada tanda tanda kota yang
nampak. Hanya ada beberapa rumah kayu didekat pantai.
Setelah mengatur nafas dan berberes maka kami
menemukan sebuah jalan, maka berangkatlah kami menuju
suatu arah yang kami duga sebagai kota Klang. Dan
ternyata memang arah tersebut benar dan setelah satu
jam perjalanan kami sampai dikota, kami menyebar
supaya tidak mengundang perhatian masyarakat setempat.
Dari sana tidaklah terlalu sulit untuk menuju ke
terminal bis dan melanjutkan perjalanan ke Kuala
Lumpur atau tujuan lain.
Saya tidak punya uang sama sekali. Seorang dari Bukit
Tinggi merawat saya dan kami menjadi teman
seperjalanan.
Ketika kami tiba di terminal bis Pudu, kami berpisah.
Sekarang saya di Kuala Lumpur. Di salah satu sudut
kota yang nampak besar sekali inilah ibu saya tinggal.
Tapi tidak apa karena ini bukan pertama kalinya saya
harus hidup sendiri disuatu kota asing, saya merasa
menjadi seperti seorang petualang yang kuat.
Pertama saya berputar putar diantara pedagang makanan
dan warung kopi di sekitar terminal bis bertanya
kepada setiap orang yang bersedia memberiku pekerjaan.
Saya sangat yakin akan segera bertemu dengan ibu dan
saya ingin menabung sedikit uang supaya bisa membeli
baju baru untuk dikenakan pada pertemuan kami dan
pencariankupun berakhir sampai disini.
Sayangnya tidak seorangpun sudi mempekerjakan saya.
Jadi pada suatu senja saya kembali ke terminal bis.
Tiba tiba saya dengar dua orang berbicara dalam bahasa
Aceh. Maka saya mulai bicara dengan mereka dan segera
saya ceritakan hidup saya. Kedua orang itu memberiku
suatu alamat di Gombak dan sedikit uang untuk karcis
bis. Ketika tiba di Gombak saya dapatkan rumah orang
Aceh. Mereka memperkenankan saya masuk dan sekali lagi
saya merasa sangat aman, perasaan yang baru saya alami
setelah berbulan bulan lamanya.
Kebanyakan yang tinggal di rumah tersebut adalah
pengungsi seperti saya dan saya bisa bicara tentang
pengalaman saya dengan lebih terbuka. Saya menjadi
semacam pahlawan dimata mereka. Mereka semua
menyampaikan akan selalu buka mata dan telinga akan
keberadaan ibu saya. Beberapa hari setelah kedatangan
saya salah seorang teman saya datang dan menyampaikan
kabar bahwa bapak saya bekerja di kawasan konstruksi
sebagai buruh kontral ilegal. Saya sangat gembira
mendengar kabar itu. Jadi bapak juga berada disini.
Pasti kami akan merayakan pertemuan ini.
Pertemuan Kembali
Hari berikutnya saya diantar ke tempat bapak bekerja.
Betapa kegembiraan meluap ketika kulihat bapak lagi.
Ketika beliau selesai bekerja kita bersama sama menuju
rumahnya. Dan disana ada ibu, dan saudara laki laki
dan perempuanku. Hari yang penuh berkah.
Tetapi ceritaku tidak hanya sampai disitu. Ternyata
kita juga belum benar benar aman. Pemerintah Malaysia
sedang melangsungkan operasi untuk menyingkirkan
imigran gelap dari Indonesia dan hendak dipulangkan.
Apabila ini terjadi maka runyamlah kami dan kita akan
pulang menuju kepastian liang kubur. Kabarnya ada
persetujuan dengan Indonesia, Malaysia tidak
menganggap kami sebagai pengungsi.
Setelah beberapa hari kami mengemas barang dan jalan
bersama lima puluh tiga warga Aceh lainnya menuju
kantor United Nations High Commission for Refugees (UNHCR).
Setiba di kantor tersebut kami memberitahukan pihak
PBB bahwa kami tidak akan keluar sampai status kami
sebagai pengungsi diresmikan oleh pihak PBB. Kami
tidak tahu proses tersebut perlu berapa lama. Awalnya
kami tidur di bawah serambi rumah dan selanjutnya
menggunakan kain terpal dan potongan kayu untuk
membangun rumah sementara di pekarangan rumah PBB.
Sekarang dua setengah tahun telah berlalu dan kami
masih tinggal di sini. Seorang adik laki-laki telah
lahir di sini dan keluarga saya menjadi semakin besar.
Seolah-olah kami dalam kurungan PBB. Saya sebenarnya
ingin sekolah dan belajar hal-hal yang dipelajari anak
lain di bangku sekolah. Ada empat belas anak lain di
sini dan semuanya merasa seperti itu. Suatu hari saya
ingin menjadi seorang doktor.
Tetapi paling tidak saya di sini bersama keluar dan
saya berpuji syukur kepada Allah atas berkatnya dan
kami selalu berdoa untuk masa depan dan kehidupan yang
kembali seperti biasa.

Cerita
tersebut disampaikan kepada majalah Inside Indonesia
oleh Gerakan Aceh Merdeka. Berdasarkan wawancara
dengan bocah tersebut. Nama-nama sebenarnya sudah
diganti agar yang bersangkutan tidak menjadi sasaran. |