|
2
Maret, 2005
United Nations Development Programme (UNDP)
Press Release (Siaran Pers)
Aceh, 2 Maret 2005 - Ratusan orang berkumpul di
Universitas Syah Kuala, Aceh, pada hari Selasa (1/3)
untuk pertemuan pertama dalam rangkaian konsultasi
publik mengenai rencana pemerintah membangun masa
depan Aceh. Dokumen pembangunan Aceh yang dikenal
dengan sebutan "Cetak Biru" ini didukung oleh Program
Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP).
Pejabat Gubernur Aceh, Abubakar, membuka acara yang
telah diumumkan secara luas di media-media lokal
sebelumnya sebagai wahana terbuka bagi siapa saja yang
ingin menyampaikan pandangan-pandangan mereka.
Dalam sambutan pembukaannya, Pejabat Gubernur Abubakar
mengucapkan terima kasih kepada UNDP atas kerjasama
erat dalam sebuah kemitraan dengan pemerintah lokal.
UNDP menyediakan pendanaan sebesar $250,000 untuk
membantu proses konsultasi ini, yang berasal dari
program tata pemerintahan. Uang ini akan digunakan
untuk penyelenggaraan konsultasi, termasuk perjalanan
para pejabat ke dan dari kabupaten-kabupaten di Aceh,
juga ke dan dari Jakarta. Dana ini juga akan digunakan
untuk membiayai sebuah kantor sekretariat lengkap bagi
badan perencanaan pembangunan tingkat propinsi.
Selain itu, sejumlah penasihat teknis yang didanai
oleh UNDP dan Bank Dunia akan bekerjasama dengan
pemerintah.
Proses konsultasi ini dirancang untuk memungkinkan
masyarakat Aceh mengutarakan pandangan-pandangan
mereka kepada pihak pemerintah, agar Cetak Biru yang
dihasilkan merupakan dokumen yang benar-benar
representatif dan demokratis.
"Yang paling penting adalah untuk 'mempersatukan',"
demikian kata Pak Abubakar, dalam sebuah wawancara
dengan UNDP. "Banyak orang mempunyai ide-ide tentang
bagaimana membangun kembali Aceh, tetapi kita perlu
menyusunnya menjadi satu kesimpulan. Ini adalah tugas
yang sangat berat."
Dalam ajang konsultasi ini, siapa saja yang ingin
berbicara harus menyampaikan pandangan atau usulannya
kepada sebuah panel yang terdiri dari anggota kelompok
kerja Pemerintah perancang Cetak Biru tersebut, dan
sejumlah ahli dari masyarakat setempat. Setiap hari,
konsultasi akan membahas bidang kebijakan yang berbeda.
Di antara banyaknya sumbangan pemikiran dalam diskusi
hari pertama yang membicarakan masalah tata ruang
adalah pertanyaan kontroversial tentang dapat-tidaknya
dibuat satu zona bebas bangunan sepanjang dua
kilometer di pantai Aceh. Pandangan ini disampaikan
oleh seorang ahli seismologi dan ahli geologi. Dokumen
Cetak Biru ini akan diterbitkan pada tanggal 28 Maret.
Wawancara lengkap dengan Pak Abubakar dapat diakses di
website UNDP Indonesia. |