|
Harian Waspada
Selasa, 5 Agustus, 2008
BANDA ACEH: Badan PBB yang menjalankan misi
kemanusiaan di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD)
akan membentuk "Gender Working Team" yang akan
membahas masalah gender dan HAM dalam kelanjutan
rehabilitasi dan rekonstruksi setelah berakhirnya
tugas Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) di
Aceh.
"Setelah tugas BRR berakhir pada April 2009 proses
pemulihan masih terus berjalan karena itu kita perlu
membentuk suatu kerangka Gender Working Team untuk
membicarakan masalah gender dan HAM," kata Kepala
Badan Pemberdayaan Perempuan dan Pelindungan Anak (BPPPA)
NAD, Raihan Putri di Banda Aceh, Senin.
Dalam pertemuan yang dihadiri perwakilan badan PBB di
Aceh seperti Organisasi Buruh Internasional (ILO),
Bank Pembangunan Asia (ADB), UNDP, Program Pangan
Dunia (WFP) dan Badan Kesehatan Dunia (WHO).
Pertemuan tersebut diselenggarakan untuk koordinasi
antara BPPPA dengan dinas terkait dan badan PBB guna
melihat apa saja yang sudah dilakukan pascatsunami
terutama di bidang gender.
Menurut Raihan, dari pertemuan tersebut ada beberapa
hal khusus yang akan dilaporkan kepada Wakil Gubernur
Muhammad Nazar seperti masalah penguatan
pengarusutamaan gender di instansi-instansi pemerintah.
Pengarusutamaan gender yaitu laki-laki dan perempuan
dilibatkan bersama sejak perencanaan dan dalam
pengambilan keputusan. Di samping itu keterlibatan
perempuan dalam politik juga harus lebih aktif baik di
legislatif maupun eksekutif.
"Perempuan harus lebih banyak terlibat dan berada di
posisi sebagai pengambil keputusan, terlebih lagi
dalam proses pemulihan," tambah Raihan.
Dalam proses pemulihan di Aceh, keterlibatan perempuan
masih kurang dominan padahal banyak perempuan yang
turut menjadi korban dalam musibah tersebut. (ags/ann) |