|
Warta Budidaya Bulletin
24 Juni, 2005
Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) Pasca Gempa Bumi dan
Tsunami
Gempa bumi dan gelombang tsunami yang terjadi pada
tanggal 26 Desember 2004, yang menimpa NAD telah
mengakibatkan dampak yang begitu luas, baik dalam
negeri maupun luar negeri. Berbagai sarana dan
prasarana, baik fasilitas pemerintah maupun milik
masyarakat rusak bahkan hancur. Sejumlah kelompok
masyarakat dan dan instansi baik pemerintah maupun
swasta yang prihatin dan peduli terhadap kondisi
tersebut terus berdatangan ke wilayah NAD
berpartisipasi memberikan kontrbusinya guna mendukung
pemulihan situasi dan kondisi di sana.
Dampak gempa bumi dan tsunami yang berkekuatam 8,9
Skala Richter tersebut telah mempengaruhi aspek
ekologi dan lingkungan terutama wilayah pesisir yang
sebagian besar dihuni oleh pembudidaya ikan dan
nelayan. Sepanjang pesisir barat dan pesisir timur NAD
terlihat kerusaken sarana dan prasarana budidaya
seperti tambak, saluran tambak, hatchery, kolam air
tawar, dan Karamba Jaring Apung (KJA).
Kondisi Perikanan Budidaya
Berdasarkan data yang dihimpun oleh SATGAS DKP laporan
dinas kabupaten/kota yang membidangi kelautan dan
perikanan di Provinsi NAD, dan hasil survei lapangan
serta laporan masyarakat yang diterima oleh SATGAS DKP
- Banda Aceh, diperoleh data sebagai berikut:
Kerusakan sarana dan prasarana budidaya seperti tambak,
saluran tambak, hatchery, kolam air tawar, dan KJA
terjadi di Kota Banda Aceh, Kota Lhoksemawe, Kab. Aceh
Besar, Kab. Pidie, Kab. Bireuen, Kab. Aceh Utara, Kab.
Aceh Timur, dan Kb. Aceh Selatan;
Persentase kerusakan tambak den saluran tambak
terparah (100%) terjadi di kota Banda Aceh (541 Ha
tambak dan 20 km saluran tambak) dan Kab. Aceh Besar
(1.005,7 Ha tambak dan 42 km saluran tambak) dimana
semua tambak dan saluran tambak rusak;
Kerusakan tambak terluas terjadi di Kab.Aceh Timur
(7366 He) dan Kab. Aceh Utara (4114 Ha) serta
kerusakan saluran tambak terpanjang terjadi di Kab.
Aceh Utara (169 km) dan Kab. Bireuen (126 km);
Kerusakan lain menimpa hatchery yang berada di : Kab.
Pidie (46 unit), Kab. Aceh Utara (38 unit), Kab.
Bireuen (32 unit), Kab. Aceh Besar (13 unit), dan Kab.
Aceh Timur (7 unit); Sedangkan KJA yang rusak sebanyak
13 unit kesemuanya terdapat di Kab. Aceh Utara; dan
kerusakan kolam air tawar terjadi di Kab. Aceh Besar,
Kab. Aceh Selatan, dan Kab. Aceh Utaa masing-masing 14
Ha, 4,95 Ha dan 1,4 Ha;
Jika dilihat dari aktiftas budidayanya maka budidaya
air payau dan air laut merupakan kegiatan yang
mayorltas terkena musibah.
Sedangkan korban jiwa yang diderita keluarga besar dan
Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NAD dan UPT Loka
Ujung Batee adalah : meninggal dunia 17 orang, korban
hilang 127 orang serta rumah karyawan lingkup
Diskanlut Provinsi NAD dan kabupaten/kota sebanyak 200
unit.
Upaya Yang Dilakukan
Guna memulihkan dan mengaktifkan kembali kegiatan
masyarakat di Provinsi NAD, dalam jangka pendek
pemerintah akan segera melakukan rehabilitasi sarana
dan prasarana perbenihan dan pembesaran melalui
kegiatam padat karya sehingga dapat mendukung kegiatan
budidaya; serta mengaktifkan sarana dan prasarana
budidaya seperti hatchery, tambak, dan sebagainya yang
tingkat kerusakannya tidal, terlalu parah terutama
pada sentra-sentra pembudidaya ikan yang masih ada;
segera memfungsikan kembali LOKA Budidaya Air Payau (BAP)
Ujung Batee sebagai penghasil benih; memulihkan
kondisi (semangat dan kepercayaan) bagi pembudidaya
ikan khususnya pembudidaya ikan yang berskala rumah
tangga; menggerakkan pembudidaya ikan dengan kegiatan
budidaya yang mudah, efektif dan tepat guna.
Rencana Jangka Panjang
Untuk mengantisipasi kejadian serupa agar tidak
menimbulkan korban yang lebih banyak, diperlukan
perhatian dengan cara penataan kembali kawasan yang
berada di daerah rawan bencana alam yang
mempertimbangkan mitigasi bencana dan sifat alam serta
lingkungan, yaitu dengan menyusun tata ruang (kawasan)
budidaya yang berwawasan lingkungan melalui pendekatan
akuabisnis secara terpadu dan berkelanjutan.
Meningkatkan partisipasi masyarakat melalui
pemberdayaan kelompok guna mendukung kegiatan budidaya
yang ekonomis dan berdaya saing, dengan menyusun
strategi komunikasi dan sosialsasi kepada masyarakat
pantai agar dapat meningkatkan kewaspadaan terhadap
bahaya bencana alam.
Untuk menata kembali Perikanan Budidaya baik itu
tambak, saluran den hatchery serta pengadaan sarana
dan prasarana pendukung seperti jalan, pasar, jaringan
Iistrik, jaringan telepon, fasilitas air bersih, dan
sebagainya, sangat tergantung dari hasil tata ruang
yang sedang dilakukan oleh kelompok kerja (pokja) tata
ruang yang dikoordinir oleh Bappenas, Dep. PU, BPN,
Pemda, Perguruan Tinggi, dan Tokoh Masyarakat, yang
sampai berita ini diturunkan masih dalam proses.
Dari hasil identifikasi dan wawancara dengan
masyarakat perikanan baik petambak maupun nelayan yang
selama ini bermukim di pesisir laut dan pantai, mereka
tidak akan mau dipindahkan dari habitatnya semula
dengan demikian diharapkan hasil perencanaan tata
ruang tersebut tidak akan mengalami perubahan yang
signifikan terhadap sub sektor perikanan yang telah
ada.
Sumber: Warta Budidaya (bulletin Departmen Kelautan
dan Perikanan) Edisi 7, Tahun 2005. |