|
Jum'at, 23 Februari, 2007
Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)
Profesor Said D. Jenie dan Kuasa Usaha Kedutaan Besar
A.S. John Heffern menandatangani perjanjian kerjasama
ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang teknologi
pendeteksian dan sistem peringatan tsunami.
Perjanjian antara BPPT dan Badan Kelautan dan Atmosfer
Nasional A.S. (U.S. National Oceanic and Atmospheric
Administration/NOAA) akan membantu BPPT mengembangkan
sistem peringatan dini tsunami untuk Indonesia yang
mencakup bantuan A.S. berupa dua sistem peralatan
apung pendeteksi tsunami, sistem peramalan tsunami,
pelatihan dan pengembangan untuk meningkatkan
kemampuan Indonesia dalam mengeluarkan ramalan dan
peringatan tsunami.
Sistem tsunami dapat membantu para pengelola tanggap
darurat di wilayah yang berpotensi terkena tsunami
untuk mempersiapkan berbagai kegiatan dan mendidik
penduduk di wilayah tersebut mengenai hal-hal yang
dapat mereka lakukan untuk melindungi diri. Departemen
Luar Negeri A.S. telah menyediakan dana bantuan
sebesar 1 juta dolar AS untuk pengembangan Sistem
Peringatan Tsunami di Indonesia.
“Bulan November lalu, Presiden Bush dan Presiden
Yudhoyono mengumumkan Nota Kesepahaman untuk
mengembangkan Sistem Peringatan Berbagai Bencana.
Kemitraan yang disepakati hari ini untuk mengembangkan
Sistem Peringatan Tsunami di Indonesia merupakan salah
satu prakarsa strategis pertama sebagai hasil dari
perjanjian yang penting ini,” kata Heffern.
Dalam perjanjian BPPT-NOAA ini, Indonesia dan A.S.
juga memiliki komitmen untuk pelatihan dan pembangunan
kapasitas dalam teknologi pendeteksian tsunami dan
akan memberikan kontribusi bersama bagi Sistem
Peringatan Tsunami Samudera Hindia dengan menggunakan
serta memelihara sistem NOAA DART™ sebagai sumbangan
untuk kepentingan regional. Sistem pengawasan tsunami,
dan sistem lainnya yang digunakan di bawah kemitraan
dengan Pemerintah Thailand akan membantu memberikan
peringatan tsunami dini untuk wilayah Samudera Hindia.
NOAA mengembangkan sistem Deep-ocean Assessment and
Reporting of Tsunamis (DART™) untuk mendeteksi
tsunami. NOAA juga sedang mengembangkan sebuah sistem
yang mudah digunakan, yang dapat dipasang di atas
kapal berukuran kecil seperti kapal penangkap ikan.
“Kami bekerjasama dengan Indonesia dalam mengadakan
penelitian dan pengembangan untuk membangun kapasitas
di belahan dunia tersebut,” kata Richard W. Spinrad,
asisten administrator bagian Penelitian Atmosfer dan
Kelautan (OAR) NOAA.
Amerika Serikat dan NOAA telah bekerjasama dengan
Indonesia dan negara-negara lain di Samudera Hindia
untuk mendukung investasi strategis di IOTWS sejak
tsunami dahsyat pada Desember 2004. Komisi Oseanografi
Antar Pemerintah UNESCO menjadi ujung tombak dalam
memfasilitasi pengembangan sistem peringatan tsunami
yang dapat digunakan lintas negara di wilayah tersebut. |