|
Siaran Pers
22 Juni, 2006
BANDA ACEH: Pemerintah Kanada melalui Canadian
International Development Agency (CIDA), membantu dana
senilai C$8,8 juta (Rp 70,4 milyar) untuk memperkuat
pemerintahan di Aceh. Proyek 3,5 tahun ini meliputi
penguatan manajemen, pelayanan pemerintah daerah dan
tata kelola pemerintahan di tiga kabupaten/kota yaitu
Banda Aceh, Aceh Jaya, dan Pidie.
Sebagai tanda dimulainya proyek Asistensi Pemerintah
Daerah antara Kanada dan Aceh (CALGAP), belum lama ini,
telah ditandatangani sebuah nota kesepakatan antara
Duta Besar (Dubes) Kanada untuk Indonesia, Randolph
Mank, dan Kepala Badan Pelaksana Badan Rehabilitasi
dan Rekonstruksi (BRR) NAD-Nias, Kuntoro Mangkusubroto.
BRR yang mewakili Pemerintah Indonesia akan memastikan
kelancaran proyek tersebut. BRR akan menunjuk
wakil-wakil dari pemerintah daerah, melaksanakan dan
memimpin steering committee, memutuskan dan membuat
persiapan administratif, memastikan ketersediaan dana
dari pihak pemberi bantuan, serta memberikan dukungan
lainnya.
Dubes Mank mengatakan, Sebagai bagian kontribusi kami
untuk membantu rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh-Nias,
pemerintah dan rakyat Kanada senang dapat
berkontribusi memperkuat pengelolaan dan layanan
pemerintah di Aceh, karena ini membantu mereka
memperkuat kapasitas kelembagaan untuk mengakses
program-program pembangunan berkesinambungan. Proyek
ini penting bagi kegiatan program kelembagaan CIDA
untuk rekonstruksi Aceh dan Nias.
Kuntoro menyatakan, Pemerintah daerah yang kuat
merupakan kunci pemulihan yang berkesinambungan bagi
perkembangan Aceh ke depan, termasuk kesiapan dan cara
mengalihkan resiko dari bencana yang mungkin terjadi
kemudian. Kami menyampaikan penghargaan kepada
Pemerintah Kanada atas partisipasinya membangun Aceh
yang lebih kuat. Lewat pengembangan kapasitas
kelembagaan setempat, Kanada akan meninggalkan warisan
yang terus bermanfaat bagi Aceh.
Federation of Canadian Municipalities (FCM) bersama
mitra-mitranya dari Kanada akan menerapkan proyek
CALGAP atas nama CIDA dengan inisiatif melalui
penerapan pengembangan kapasitas kelembagaan dalam
membantu pegawai pemerintah setempat di Aceh ketika
menghadapi berbagai tantangan rehabilitasi dan
rekonstruksi pascatsunami yang berdampak pada kualitas
kehidupan masyarakat.
Deputi Direktur FCM, Tim Kehoe, menyatakan, Ini suatu
kehormatan bagi kami untuk bisa berbagi pengetahuan
dan pengalaman dalam perencanaan, organisasi dan
penerapan proyek ini bersama rekanan kami di
Indonesia, guna memperkuat kapasitas kelembagaan dalam
pengelolaan dan layanan pemerintah setempat di Aceh.
Hal-hal yang akan diterapkan pada program CALGAP ini
mencakup perbaikan kapasitas manajemen yang mendasar,
seperti perencanaan di Pidie, pelaksanaan operasional
administrasi di Aceh Jaya, layanan dasar
kepemerintahan seperti manajemen limbah di Banda Aceh,
dan mendukung pembuatan laporan DPRD yang lebih
akuntabel kepada masyarakat di Aceh Jaya.
Penguatan kapasitas kelembagaan pemerintahan di Aceh,
yang banyak kehilangan dan kerugian akibat gempa dan
tsunami, adalah kunci program pemulihan
berkesinambungan. Pengalihan aset-aset yang diperoleh
selama rekonstruksi serta alih pengetahuan dan
kapasitas manajemen yang sukses, tergantung pada
struktur pemerintah daerah yang kuat.
Akibat gempa bumi dan tsunami 26 Desember 2004,
sebanyak 2.992 pegawai pemerintah meninggal dunia dan
2.274 lainnya hilang. Selain itu, 1.052 gedung
pemerintahan rusak. Sedangkan di Nias, 761 gedung
pemerintahan rusak akibat gempa bumi 28 Maret 2005.
Sejak tsunami akhir tahun 2004, Kanada berkomitmen
membantu C$425 juta pada tahap tanggap darurat dan
rekonstruksi jangka panjang bagi semua negara yang
terkena dampak tsunami di Asia. Hampir separuh dari
dana tersebut diberikan untuk Indonesia sebagai negara
terparah terkena dampak bencana. Lebih dari C$50 juta
digunakan untuk aktifitas tanggap darurat di
Indonesia, dan sekitar C$140 juta akan digunakan untuk
rekonstruksi.
Untuk informasi lebih lanjut hubungi:
BRR NAD-Nias:
Mirza Keumala
Kepala Komunikasi dan Hubungan Stakeholders
Tel: 0812 698 9519 |